Senin, 21 Desember 2009
Merenung
Seorang penulis buku bernama Andar Ismail pernah berkata bahwa Natal memang peristiwa yang agung, tetapi sebenarnya merayakan Natal itu sendiri adalah sebuah hal yang dapat disebut gampang-gampang susah. Ibarat berjalan dipematang sawah pada waktu malam dan tanpa penerangan yang cukup, jika tidak berhati-hati kita dapat terperosok. Menurut Andar, hal yang dapat membuat kita terperosok adalah komersialisasi Natal dan kesibukan Natal itu sendiri. Komersialisasi? Ya! Tanpa kita sadari Natal telah larut dalam rupa-rupa bisnis walaupun dengan dalih mencari dana perayaan Natal. Kita sibuk dengan menjual pakaian dan topi sinterklas yang adalah sumbangan dari budaya Belanda. Kita sibuk menghias pohon Natal yang adalah sumbangan budaya Jerman. Mungkin saja kita sibuk berbelanja lilin terang yang mulanya disulut oleh orang-orang Irlandia. Kita sibuk memilih-milih kartu Natal yang mulanya adalah kebiasaan orang-orang Inggris. Atau kita sibuk menghias sudut-sudut jalan seperti warisan budaya Italia.
Selain bahaya kesibukan dan komersialisasi Natal, kita juga dapat jatuh dalam kemunafikan Natal. Perintah Allah dalam Matius 5:14 agar kita menjadi terang sering kali hanya berlaku pada musim natal, persis seperti lampu-lampu Natal yang disimpan pada bulan lain. Kita bisa saja murah hati, murah senyum tapi itu hanya berlaku selama musim Natal. Apa sebenarnya Natal itu? Pertanyaan itu jauh lebih penting dari pada “makan apa Natal tahun ini? Pakai baju apa Natal tahun ini? Kado apa yang akan saya terima?”
Salah satu pesan penting dari peristiwa Natal yang harus kita sadari adalah fakta bahwa Natal adalah sebuah empati. Yohanes 3:16 berkata: “…begitu besar kasih Allah akan dunia ini SEHINGGA Ia mengaruniakan anakNya…” Empati dari Allah selalu menghadirkan tindakan nyata, bahkan Ia rela menempuh cara apapun supaya manusia melihat bukti dari empati Allah. Yohanes 1:14 berkata: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, . . . .” Inilah yang dapat disebut sebuah keajaiban atau mujizat bagi manusia.
Telah lama sejak kejatuhannya dalam dosa, manusia berusaha mencari jalan menuju kepada pemulihan hubungan dengan Tuhan. Apakah berhasil? Tidak! Jalan pemulihan itu terbuka melalui cara yang adikodrati, diluar jangkauan usaha dan kemampuan manusia. Itu diawali dengan kelahiran Yesus secara supraalamiah. Kemudian dilanjutkan dengan kematianNya di atas salib yang menjadi pendamian antara manusia dengan Allah, yang juga hal supraalamiah sebab berada diluar pikiran manusia. Ingatlah bahwa semua itu diawali dari “kasih” seperti tertulis dalam Yohanes 3:16 di atas.
Natal adalah bentuk kepedulian dari sang Agung kepada “yang hina”. Karena Dia peduli, Dia dapat merasakan apa yang kita rasakan (Ibrani 4:15). Perayaan-perayaan Natal menjadi tidak berarti jika sebelum dan sesudah musim Natal, kita hidup untuk diri sendiri, membangun monumen ke ‘aku’an. Mari jadikan natal sebagai titik balik dimulainya kasih yang terungkap dalam kepedulian yang nyata bagi orang lain. Kasih dan kepedulian itulah yang menghadirkan mujizat bagi orang lain, yakni keselamatan jiwa. Hanya orang-orang yang mengasihi sesamanya dan tergerak oleh kebutuhan orang-orang di sekitarnya yang layak merayakan Natal.
Rabu, 16 Desember 2009
Kamis, 16 April 2009
SYAIREFLEKSI
AKU TAK PERNAH BERBUAH…TAK MAMPU
AKU TAK PERNAH BERHASIL…TAK AKAN
JALANKU BUNTU DAN LANGKAHKU GONTAI
HARI-HARIKU BERLALU CEPAT TAPI TAK BERTUJUAN
MELELAHKAN TAPI TAK MEMUASKAN
BERPELUH DAN KERAP MENCUCURKAN AIR MATA NAMUN TANPA MAKNA
SEMUA TERJADI WAKTU AKU BERDIRI DAN BERJALAN SENDIRI
SAAT AKU MENDEKAT PADAMU
DAN TANGANMU YANG LEMBUT MEMAGUTKU ERAT…
HIDUPKU BERBUAH...AKU MAMPU
MESKI KULALUI DENGAN BERLELAH
JALANKU TERBUKA BAHKAN DISAAT TAK TERDUGA
DAN AKU MULAI MAMPU MENGEJA SEBUAH MAKNA…”aku ada karena aku dicinta!”
renungan
Ingatkah peristiwa tenggelamnya kapal Titanic yang sangat melegenda? Apakah kapal Titanic tersebut tenggelam akibat menabrak sepucuk es di tengah laut? kapal Titanic tenggelam karena menabrak badan gunung es yang sangat besar tapi tersembunyi di bawah permukaan air laut. Kapal Titanic tidak mungkin bisa tenggelam jika hanya menabrak sepucuk es di atas permukaan air laut.
Kisah tentang kapal Titanic adalah sebuah ilustrasi yang tepat untuk memberi gambaran tentang 2 dimensi pikiran yang kita punyai. Puncak gunung es, dapat ibaratkan sebagai "pikiran sadar kita", yang memang kita sadari bahwa kita punya itu. Dan, badan gunung es yang sangat besar itu adalah "pikiran bawah sadar" kita, yang cenderung kita abaikan karena kita tidak tahu atau tidak menyadari bahwa itu sangat besar pengaruhnya terhadap perjalanan hidup kita. Apapun buah pikiran Anda, seperti kepercayaan, teori atau pendapat yang ada di dalam pikiran sadar Anda; akan memberikan rekaman kuat ke dalam pikiran bawah sadar Anda. Untuk kemudian pikiran bawah sadar Anda akan memanifestasikan atau mewujudkannya ke dalam kehidupan nyata diri Anda.
Alkitab pun memandang pikiran manusia sebagai hal yang sangat penting. Mari kita pelajari bersama:
1) Pikiran kita harus ditaklukan kepada Kristus.
Dalam II korintus 10:5 Paulus mengungkapkan hal ini. Paulus menggunakan istilah menawan pikiran dan menaklukkan, pada frasa tersebut. Hal ini menunjukkan sebuah peperangan yang keras dan berat dimana setan mencoba menjauhkan manusia dari pengenalan akan Allah dengan berbagai siasat (termasuk dengan penderitaan) dan menanamkan keangkuhan di dalam diri manusia (II Korintus 10:4)
2) Kebahagiaan hidup dimulai dari pikiran yang positif.
Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus mengajar mereka untuk selalu memikirkan hal-hal yang positif (Filipi 4:8) Ketika ia menuliskan hal itu, keadaannya tidaklah menyenangkan sebab ia berada dalam penjara (Filipi 1:13-4). Bukan hanya itu, ia juga mengalami kekurangan dalam statusnya sebagai tawanan (4:11-12). Tanda-tanda pikiran Paulus yang positif ini tergambardari ucapannya dalam (4:13)
Penutup: Saudaraku, tidak ada yang dapat menjamin bahwa segala sesuatu akan berjalan seperti yang kita rancangkan (sama halnya dengan Titanic). Tetapi jika kita berpikir positif yaitu meyakini campur tangan Tuhan dalam setiap keadaan kita, maka kebahagiaan akan selalu menaungi kita Sebab Allah turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Roma 8:28)
Selasa, 27 Januari 2009
Christian Ethics in Leadership adalah kuliah pertama saya di program pasca sarjana, dan sungguh sebuah anugerah saat kami mendapatkan seorang pengajar yang sederhana (bahkan tampak lusuh) dan bersahaja cara bertutuenya. Walaupun bergelar Doktor Theologi, pria ini tampak sangat rendah hati dan sederhana. Pergi dan pulang mengajar ditempuhnya dengan menggunakan angkutan umum.
Dalam kesaksiannya ia mengaku mengajar program S-1 dan S-2 di lima Sekolah Tinggi Teologi di Jakarta ini, dan berkali-kali dia diminta menjadi pemimpin jurusan atau bahkan pemimpin sekolah, namun dia menolaknya sebab ia tidak ingin menetap pada satu sekolah saja. Ia sadar panggilannya adalah menjadi pengajar dan ia ingin mengajar orang sebanyak mungkin. Tentu saja hal itu tidak akan maksimal jika ia menetap di sebuah sekolah saja.
Kalimatnya yang paling mencengangkan saya adalah saat ia mengatakan: “saya lebih suka karya daripada kursi (kedudukan)” Saya rasa hanya orang yang tahu tujuan dan panggilan hidupnya yang mampu mengucapkan kalimat arif tersebut. Jaman sekarang ini, siapa yang tidak ingin kursi? Kursi identik dengan kehormatan atau gengsi. Kursi juga identik dengan kelancaran materi. Semua orang menginginkannya bukan? Bukankah Pemilu di negeri kita tahun 2009 ini juga ajang rebutan kursi? Semoga kita semua lebih mengedepankan karya daripada kursi. Semoga pula setiap orang yang memiliki kursi tidak lupa berkarya. Semoga pula mereka yang sudah duduk di kursi tidak lupa berdiri ! Semoga kita mampu mendahulukan karya dan bukan kursi.
Setelah menunggu dua tahun dan disertai pergumulan serius beberapa bulan terakhir akhirnya saya kembali ke bangku kuliah. Sempat was-was juga soal kemampuan sendiri, soal biaya dan beberapa hal lainnya. Disisi lain syukur mengalir deras dari hati kecil karena istri tercinta mendukung sekali, sungguh itu adalah dukungan terpenting yang saya terima.
Hal yang paling mengkhawatirkan saya sebenarnya adalah soal kemampuan akademis, nggak pede rasanya dan kalau dibayangkan jauh kedepan…wah dua tahun lagi baru selesai…lama banget!!!!!! Syukur juga karena Allah tidak pernah membiarkan saya melangkah sendirian menanggung beban pikiran yang demikian. Dalam masa-masa pergumulan menjelang masuk kampus lagi dan saat menapaki hari-hari pertama di perkuliahan ada perenungan menarik yang Tuhan ajarkan kepada saya.
Pertama dalam pergulatan batin Tuhan bertanya, apa motivasiku sekolah lagi? Pertanyaan yang mencuat keluar dari hati kecil ini sempat mengganggu saya berminggu-minggu lamanya. Apakah supaya ada embel-embel Master di belakang gelar sarjana saya? Jika benar,itu artinya saya sekolah hanya demi gengsi. Syukurlah itu bukan saya! Motif lain yang saya selidiki adalah apakah agar mendapat promosi atau kenaikan gaji? Syukurlah itu juga bukan, sebab saya sudah kenyang dengan jabatan yang tidak pernah saya minta. Motivasi saya hanya satu, saya ingin lebih banyak berbagi walau tidak naik gaji! Saya mau jemaat semakin berpengetahuan karena saya ditambahkan pengetahuan.
Kedua, di atas telah saya tuliskan keluhan saya tentang lamanya waktu yang harus saya tempuh dalam kuliah ini. Tentang inipun Tuhan berbisik dalam doa saya: “jangan lihat bulan depan atau tahun depan, tetapi lihatlah hari ini dan ayunkan kaki menjalani hari ini!” Buru-buru saya tersadar, benar juga ya…ngapain kuatir dengan sesuatu yang masih jauh di depan. Saya jadi terdorong menjalani Senin sampai Jumat perkuliahan dengan rasa syukur. Saya mulai kuliah 19 Januari itu artinya 19 Januarilah yang harus saya hadapi, bukan 23 januari…pasti nanti saya akan tiba di 27 November akhir perkuliahan. Bukankah demikian halnya dengan hidup kita? Kita sering kuatir dengan bulan depan dan tahun depan. Nikmatilah hidup dan jangan kuatir, kesusahan sehari cukuplah untuk sehari, seperti dikatakan dalam Matius 6:34. Esok ada kesusahan lain dan pasti ada juga jalan keluar lain.
Semoga pengalaman ini bermanfaat bagi yang lain.
Renungan
Selain slogan “Pasti Pas” dalam layanannya kepada konsumen, Pertamina juga mencoba meyakinkan para pembelinya bahwa mesin pompa mereka dimulai tepat dari angka nol pada saat pengisian bahan bakar, entah Pertamax, Premium atau Solar. Itulah kalimat yang kerap diucapkan karyawan SPBU pertamina belakangan ini. Kalimat yang bertujuan untuk meyakinkan ketepatan kerja para karyawan dan juga mesin pompa mereka.
“Mulai dari nol ya, pak…।” Kalimat pendek karyawan SPBU itu mendadak muncul dalam benak saya tanggal 1 Januari tahun 2009 kemarin. Kalimat itu membekas dengan kental karena paling tidak 3- 4 hari sekali saya harus ke SPBU mengisi bensin sepeda motor saya. Setelah mengingat itu, tiba-tiba saja saya bergumam kepada diri sendiri: “Ini tahun baru…semestinya saya mulai dari nol dengan Tuhan.” Memang saya harus menjadi bangkrut di hadapan Tuhan. Tiada satupun yang dapat saya banggakan dan saya perlu merengek lagi kepada Tuhan: “Aku tidak punya apa-apa Tuhan…I need you Lord more than anything”
Tahun baru, tanggung jawab juga pasti baru. Tahun baru tantangan juga baru. Dan pasti berkat Tuhan juga baru, baik jenis, model, kemasan ataupun cara pengirimannya. Tahun yang baru adalah saat melakukan transformasi bagi kita. Saat yang tepat untuk menghasilkan yang lebih baik lagi. Oleh karena itu saya memutuskan menjadi bangkrut di hadapan Tuhan, seperti halnya Yosia saat memerintah Yehuda. Pada tahun-tahun awal dari 31 tahun masa kekuasaannya, Alkitab mengatakan dalam II Tawarikh 34:3 “…ia mulai mencari Allah Daud, bapa leluhurnya,….” Hal ini bukan berarti Yosia belum pernah mengenal Allah Daud leluhurnya. Yosia pasti pernah mendengar ajaran entang Allah yang perkasa, sebab pendidikan di Israel pada masa itu menggunakan tradisi oral yang begitu kental, di mana orang tua biasa menceritakan mujizat-mujizat dan hal-hal rohani lainnya tentang Allah kepada anak cucu mereka berulang-ulang, tepat seperti diajarkan dalam kitab Taurat.
Ulangan 6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. 6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, 6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
Jadi,apa artinya Yosia mulai mencari Allah Daud? Ini berarti Yosia membangun sebuah komitmen baru untuk menempatkan Allah sebagai top priority. Dalam sejarah sebelum pemerintahan Yosia kita melihat Allah ditempatkan hanya sebagai obyek yang timbul tenggelam, tak lebih dari sandal yang sebentar dipakai dan sebentar kemudian diletakan begitu saja. Sebelum masa Yosia, Allah bukanlah top priority orang Israel. Memang seharusnya Allah menjadi Subyek yang berkusa dan bukan obyek yang kita atur seenaknya. Tahun yang baru adalah saatnya kita menemukan kembali Allah yang kita benamkan dalam kesibukan-kesibukan kita di tahun yang lalu dan menjadikan Dia tujuan dari apa yang kita kejar di tahun yang baru.
Tahun yang baru, alangkah baiknya jika kita menjadi bangkrut secara rohani dan kembali mulai dari nol. Happy New Year 2009!
Kamis, 18 Desember 2008
Natal
Sol Justitiae
Tahukah saudara bahwa pada awalnya gereja merayakan hari raya
tanggal 6 Januari?. Baruah dalam perkembangan selanjutnya, yakni mulai abad IV gereja merayakan hari
Selaras dengan gelar “Sol Justitiae” tersebut penulis Ibrani meneguhkan kembali mengenai Kristus. Di sana dikatakan: “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan”.(Ibr. 1:3) Gelar Kristus sebagai “cahaya kemuliaan Allah” artinya adalah Kristus sendirilah sumber cahaya ilahi dan dengan FirmanNya dan Ia menopang segala sesuatu, khususnya mereka yang disebut Maleakhi sebagai “orang-orang yang takut akan namaKU.” Kristus bukanlah terang besar, tetapi sumber terang yang tak terpadamkan. Satu hal yang patut kita kagumi adalah Allah berkenan menunjukkan cahaya kemuliaanNya melalui seorang bayi yang tampil secara sederhana, bahkan tanpa daya di dalam diri bayi Yesus. Sang matahari kebenaran dan Sang cahaya kemuliaan Allah itu hadir tanpa publikasi dan hanya diketahui oleh segelintir orang saja, yaitu orang-orang Majus dan para gembala di padang Efrata.
Dalam minggu-minggu yang sibuk dengan perayaan Natal ini biarlah kita tidak akan terlena dengan kemeriahan pesta. Biarlah mata hati kita tetap terjaga dan menggenggam erat dua makna. Pertama, Ijinkan matahari kebenaran itu bersinar melalui pesta perayaan Natal. Jangan biarkan kemeriahan panggung Natal menutupi matahari kebenaran itu menyinari jiwa yang gelap dan terluka. Kemeriahan ini tidak akan berarti jika tak banyak orang disekitar kita diterangi. Kedua, Jika hari-hari ini beratnya beban hidup membungkukkan langkah tegakmu, berhentilah meratap, sebab Sang Cahaya kemuliaan itu sanggup menopangmu dengan kekuatan FirmanNya. Berhentilah meratap. Hampirilah Kristus, Sang cahaya kemuliaan Allah itu. Berserulah kepadaNya, sebab Dialah jawaban! Selamat Natal sahabatku.
catatan harian
Sabtu kemarin, 13 Desember 2008 pergi ke doter spesialis anak untuk imunisasi si kecil. Meski bangun pagi-pagi dan masih ngantuk, Nampak sekali raut mukanya berseri karena di tahu mau diajak pergi. Tapi sampai di depan meja dokter mendadak raut mukanya berubah marah dan tidak suka dengan dokter yang memeriksanya. Ditimbang badan sudah marah dan menangis apalagi saat jarum suntik mulai di buka di depan matanya. Tangis kerasnya makin memenuhi ruang praktek doter.
Sebagai bapak, hatiku teriris mendengar teriakan dan tangisnya. Makin tak tahan manakala melihat jarum suntik itu menembus pahanya yang berisi. Itulah sekian detik yang menyakitkan buat aku. Tetapi aku harus bersabar dan menahannya karena aku tahu itu baik untuk kesehatannya di masa depan. Saat itu pasti menyakitkan buat si kecil, tetapi kelak dia akan tumbuh kuat dengan daya tahan tubuh yang baik pula.
Peristiwa itu sama halnya dengan jeritan kita saat menghadapi ujian yang menyesakkan. Pusing…susah tidur…susah makan…dan aneka rasa lainnya yang tidak enak. Tetapi jika kita renungkan lagi dengan sabar, bukankah Tuhan kita adalah perancang agung? Seperti diungkapkan oleh pemazmur dalam Mazmur 92:6 : Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya TUHAN, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu. Jika Dia adalah perancang yang besar, tentu saja setiap detil peristiwa yang kita alami berada dalam garis tujuan yang tak pernah terselami oleh kedangkalan logika manusia. Dan garis tujuan yang ditarikNya itu adalah kebaikan, sebab itulah sabdaNya dalam Yeremia 29:11.
Jarum suntik imunisasi memang menakutkan bagi si kecil dan bagi aku yang melihatnya. Tetapi aku aku percaya bahwa besok anakku akan tumbuh lebih sehat dan kuat. Ujian…tantangan memang menyesakkan bagi kita, tidak ada orang yang berharap akan mengalaminya,tetapi esok pasti menghasilkan buah, tepat seperti dijanjikanNya: Ibrani 12:11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
Kamis, 11 Desember 2008
coretanharian
Pulang Kampung Lagi….
Semalam pergi bersama istri dan pulang saat malam sudah semakin larut, jam menunjukkan angka 11 saat tiba di rumah. Sejujurnya,badan nggak ingin pergi…letih dan letih. Mendadak istri berkata: “Ayo berangkat…jangan menahan kebaikan bagi orang yang berhak menerimanya.” Mendengar itu semangatku pun terbangun. Ya…tadi malam kami harus ke Tangerang dan mendoakan dan sedikit memberikan bantuan kepada seorang jemaat yang subuh tadi harus berangkat pulang kampung bersama istri dan 4 orang anaknya, termasuk yang masih diperut sang istri.
Aku sedih…dan menangis saat memeluk bapak itu dan memeluk satu-satu anak-anak mereka yang masih kecil. Mereka adalah jemaat yang dipercayakan untuk aku gembalakan pada awal aku terjun di ladang pelayanan tujuh tahun lalu. Memang sekarang aku sudah tidak menjadi gembala mereka lagi, tetapi aku merasa satu lagi sahabatku harus menyerah karena gagal menaklukkan kerasnya ibu kota. Setelah tiga belas tahun meninggalkan kampong halamannya di Kupang, NTT tanpa pernah sekalipun mudik, ia “dipaksa” keluarganya mudik karena prihatin dengan keadaan keluarganya yang kerap kekuragan di ibu kota.
Aku menangis dan menjerit dalam hatiku: “Tuhan maafkan aku dan juga gerejaMu yang tidak mampu menjadi jembatan agar domba kepunyaanMu itu menjadi umat yang lebih sejahtera secara jasmani dan rohani.” Tangisku semakin terisak manakala aku sadar bahwa aku ini sangat lemah dan sangat terbatas. Sejurus kemudian aku berseru agar Tuhan yang tak terbatas itu memimpin keluarga itu menuju hidup jasmani dan rohani lebih baik lagi. Semalam di sepanjang jalanan yang aku lalui aku berdoa agar aku diberkati lebih dari saat ini. Aku dibuat mengembang ke kanan dan ke kiri, jasmani - rohani seperti Yabes (I Tawarikh 4:10) agar aku dapat membuat orang lain mengembang pula secara jasmani dan rohani. Amin!
CoretanHarian
Kriiiiiiiiiiiing…!!!!
Baru kemarin pagi baca dan merenungkan perumpamaan Tuhan tentang penggarap kebun anggur, di Mat. 20:1-16. Memang di bagian awal penulis Matius sudah memberitahukan bahwa Yesus sedang berbicara tentang Kerajaan Allah dalam bagian itu. Tetapi aku belajar lagi tentang sebuah kebenaran dari sudut pandang yang lain, yaitu tentang otoritas Tuhan. Dia punya hak penuh untuk mengelola milik-Nya, Dia punya hak untuk membuat peraturan-peraturan terhadap pekerja upahannNya, sekali lagi karena Dia adalah Bos! Doaku: “Tuhan aku bersyukur kepadaMu karena berkenan menerimaku mengabdi kepadaMu. Engkau adalah Bos yang baik walau banyak kali tak terselami oleh sempitnya nalar. Engkau tidak pernah berhenti merancang hal yang baik bagi para karyawanMu karena Engkau adalah Bos yang selalu ingin berbagi . Terima kasih karena Engkau mau menjadi Bos bagi orang kecil sepertiku.”
Ditengah repotnya menyiapkan khotbah buat pelayanan 13 Desember 2008 ini, dua-tiga kali aku berpedih rasa dan mikirin kewajiban keuangan yang harus aku selesaikan tapi belum mampu aku selesaikan . Syukur…khotbahnya kelar juga. Tapi malam, jam 9 an kepikiran lagi dan aku ngomong ke istriku tersayang: “Koq..tiap tahun asal mau bayar sewa rumah, kita keteteran ya…?? “ Syukur lagi, punya istri baik yang bilang: “Ngga’ keteteran lah…pasti ada!” Jujur,pas lagi begitu…lupa saat teduh pagi tadi kalau Bosku itu baik! Dan tidak pernah berhenti merencanakan yang baik.
Syukur juga ada Syamarel dan Sava yang membuat aku meangacuhkan kebimbanganku sendiri. Dengan bermain dan bercanda bersama mereka aku tersenyum lagi! Kriiiiiiiiiing…..21.49 Wib, Ponselku bordering. “….ada apa lagi pikirku..” Di seberang sana ada seseorang berkata saya baru transfer…..juta.” Bengonglah aku! Waktu istriku nanya, aku jelasin singkat dan dia balik nanya: “Kamu bilang apa…ke dia?” Jujur aku ngga’ bilang apa-apa. Bingung…bengong…Shocked! Thanks God! Hidup lagi aroma saat teduh pagi hari. Tuhan itu Bos yang baik. Dengan mudahnya Ia berbisik lembut kepada seseorang: “Pergi ke ATM…Transfer duit ke Nanang!” Thanks God, semua milikMu,Kau punya hak penuh atas semua. Matius 20:15 “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?....” Kau berhak lakukan apapun Tuhan! You’re my big Boss!
Rabu, 19 November 2008
Pendahuluan:
Reg Green adalah seorang warga California yang mengajak isteri dan anak-anaknya berlibur ke Italia. Pada saat mengendarai mobil sewaan melintasi jalan tol seorang perampok menembaki mobil mereka. Reg dan Maggie, isterinya, selamat, tetapi Nicholas yang baru berusia 7 tahun terluka dan 2 hari kemudian meninggal.
Dalam kesedihannya, ia tidak menuntut kedutaan negaranya dan menekan polisi setempat. Ia mengajukan keinginannya untuk menyumbangkan ginjal, hati, kornea, dan jantung Nicholas kepada 7 warga Italia, negara dimana anaknya mati terbunuh. Green berkata ada banyak pilihan yang kita bisa lakukan untuk kehidupan yang lebih baik, memilih mencintai daripada membenci dan bermurah hati daripada berbuat kejam. Beberapa minggu kemudian ada banyak orang Italia berbondong-bondong mencatatkan diri sebagai donor organ tubuh. Itulah ringkasan kisah dari buku yang berjudul “The Nicholas Effect”.
Juru selamat kita, Yesus Kristus juga memiliki rasa peduli yang besar terhadap segala keluh kesah kita, hingga Alkitab meringkas perasaan Yesus itu di dalam Ibrani 4:15.
Kepedulian Allah ditunjukkan melalui ‘duka’-Nya melihat keadaan manusia dan dunia ini. Dalam hal apa saja Allah berduka?
1. Allah berduka melihat keadaan dunia ini.
Beberapa hal yang dituliskan oleh Paulus mengenai dunia ini:
Dunia ini jahat (Galatia 1:3-4). Sistim informasi dan nilai-nilai pergaulan yang buruk telah merusakan kebiasaan baik manusia..
Dosa telah masuk ke dalam dunia ini (Roma 5:12)
Dunia ini tidak layak ditiru (Roma 12:2)
Di tengah situasi dunia yang seperti demikianlah Allah menunjukkan kepedulian-Nya pada dunia ini. Seperti dikatakan dalam (Yohanes 3:16-19)
2. Yesus juga berduka karena keberdosaan seseorang.
a. Pada peristiwa penyembuhan di kolam Betesda, Yesus menjumpai seorang yang sudah 38 tahun sakit, lalu disembuhkan oleh kuasa-Nya. Oleh sebab itulah Yesus meminta supaya orang itu tidak berbuat dosa lagi, sebab jika ia masih berbuat dosa maka hal yang lebih buruk lagi akan menimpanya (Yohanes 5:14).
b. Kisah berikutnya adalah ketika Yesus berhadapan dengan seorang wanita yang kedapatan berbuat zinah dan hendak dilempari dengan batu oleh orang banyak. Di sana Yesus jelas sekali menunjukkan anugerah-Nya bagi si Pendosa dengan mengampuni dan juga memperingatkan agar tidak mengulangi perbuatannya kembali (Yohanes 8:2-11) Perhatikanlah bentuk kepedulian Yesus yang diwujudkan dengan memulihkan manusia dari kutuk dosa dan memperingatkannya akan dampak yang lebih buruk lagi dari dosa.
3. Yesus berduka karena penderitaan seseorang (empati).
a. Rasa empati inilah yang berujung pada sebuah tindakan. Beberapa kali Alkitab mengatakan bahwa hati Yesus tergerak oleh belas kasihan (Mat 20:34; 14:14; Markus 1:41).
b. Selain itu, dalam Yohanes 11:33 disebutkan “masygullah hati Yesus” (secara kasar istilah ini dapat diibaratkan seekor kuda yang meringkik dengan keras dengan kaki depan terangkat dan tak sabar untuk berlari. Itulah rasa hati Yesus; gelisah tak sabar untuk segera melakukan sesuatu) saat melihat derita Maria dan Marta.
Jika Allah peduli, kita pun harus peduli! Pertanyaannya bagi kita: kapan terakhir kali kita bersedih, menangis dan tak tahan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain yang sedang menderita?
Rabu, 20 Agustus 2008
Pendahuluan:
Siapa Turis Terbaik di Dunia? Menurut sebuah survei yang dilakukan di Eropa, orang-orang Jepang adalah turis terbaik. Setelah itu, orang-orang Amerika Serikat dan Swiss. Menurut survei itu, para turis asal Jepang bersikap sopan dan taat pada aturan. Sebanyak 35 persen responden memilih orang-orang Jepang. Survei itu dilakukan oleh sebuah situs wisata Expedia. Sebanyak 1.500 staf hotel di Eropa ditanya pendapat mereka tentang perilaku para turis. Menurut survei itu, orang-orang Swiss dinilai sebagai turis yang tenang. Tidak seperti turis asal Inggris yang berada di urutan kelima terburuk. Perilaku turis Inggris dinilai tidak menyenangkan. Mereka terlalu berisik dan jarang memberi tip. Meski demikian, responden memuji orang-orang Inggris sebagai orang yang sering berlibur dibandingkan orang-orang AS. Turis terburuk, ujar para staf hotel, adalah orang-orang Prancis, disusul India, Tiongkok, dan Rusia. Turis bergaya pakaian terburuk berasal dari AS dan Inggris.(Sumber : Suara Pembaruan)
Peralihan:
Orang mungkin akan mudah melupakan nama kita. Tapi, orang akan mudah mengingat dua hal tentang kita : kesan yang baik dan kesan yang buruk. Apa yang ingin anda tinggalkan? Mari kita belajar dari dua tokoh penguasa negeri yang besar dan kesan yang mereka tinggalkan setelah mereka mati.
1. Raja Yoram meninggalkan kesan buruk
Yoram memerintah hanya 8 tahun dan pada akhir hayatnya Alkitab menuliskan: “ … Ia meninggal dengan tidak dicintai orang…” (II Tawarikh 21:20). Lebih tragis lagi dalam akhir kalimat II Tawarikh 21:20 tersebut dikatakan; ”…Ia dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak dalam pekuburan Raja-raja.” Bukan hanya waktu hidup Yoram dibenci, setelah mati pun ia tetap dibenci dan tidak dihormati. Ia tidak disejajarkan dengan Raja-raja Israel lainnya.
Apa gerangan yang diperbuat Yoram hingga orang-orang Israel membencinya? Jika ditelusuri seluruh kisah Yoram dalam Kitab II Tawarikh 21, akan nampak jelas di sana bahwa Yoram sendiri adalah pribadi yang tidak peduli dengan cinta. Kepeduliaannya hanya ada pada kekuasaan. Demi melindungi kekuasaannya, Yoram membunuh orang-orang di sekitarnya karena takut mereka akan merebut kedudukannya (II Tawarikh 21:4). Tidak hanya itu, Yoram juga menyesatkan rakyatnya dan menganjurkan penyembahan berhala. Sebuah arahan bodoh dari seorang penguasa kepada rakyatnya (II Tawarikh 21:11).
2. Raja Hizkia meninggalkan kesan baik
Kisah Hizkia tercatat dalam II Tawarikh 29:1-32:33. Ia menjadi raja pada usia 25 tahun dan memerintah selama 29 tahun. Mari kita simak respon rakyat pada saat kematian Hizkia. “ Kemudian Hizkia mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan dikuburkan di pendakian ke pekuburan anak-anak Daud. Pada waktu kematiannya seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem memberi penghormatan kepadanya….” (II Tawarikh 32:33)
Apa sebabnya Hizkia sangat dihormati? Mari kita simak penjelasan Alktab berikut ini:
a) Alkitab mengatakan : “Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya.” (29:2)
b) Alkitab juga mencatat dalam II Tawarikh 31:20-21 “Demikianlah perbuatan Hizkia di seluruh Yehuda. Ia melakukan apa yang baik, apa yang jujur, dan apa yang benar di hadapan TUHAN, Allahnya. Dalam setiap usaha yang dimulainya untuk pelayanannya terhadap rumah Allah, dan untuk pelaksanaan Taurat dan perintah Allah, ia mencari Allahnya. Semuanya dilakukannya dengan segenap hati, sehingga segala usahanya berhasil.
Penutup:
Kesimpulan yang dapat saya berikan adalah: ”Terlalu mudah dan terlalu banyak jalan untuk meninggalkan kesan buruk dan diperlukan kerelaan untuk terus menerus berkorban agar menghasilkan kesan baik.”
Dalam Roma 12, Paulus menasehati jemaat di kota Roma agar mereka mempersembahkan kehidupan mereka bagi Allah, dan yang menarik dari perikop tersebut adalah landasan Paulus dalam memberikan nasehat. Paulus berkata: “…Demi kemurahan Allah….” Frasa tersebut memberikan kesan yang kuat bahwa semuanya di awali dari kasih Allah, kebaikan Allah. Dengan kata lain, kalau kita memberikan apapun untuk Allah, itu hanyalah sebuah respon dari kemurahan Allah itu sendiri. Allah yang telah memulai terlebih dahulu.
Jika demikian, ada dua hal penting yang harus kita ingat mengenai hal mempersembahkan sesuatu kepada Allah ini. Yang pertama, ingatlah bahwa mempersembahkan sesuatu kepada Dia adalah sebuah tanggapan yang sudah sewajarnya kita berikan. Kemuadian yang kedua, jika kita tidak pernah mempersembahkan sesuatu kepada Allah atau menahan sesuatu yang seharusnya kita persembahkan pada Allah, itu sama artinya dengan tidak tahu berterima kasih pada Allah.
Istilah mempersembahkan sesuatu kepada Allah inilah yang akhirnya bermuara pada istilah “melayani Allah.” Ketika kita mempersembahkan uang atau harta kita untuk keperluan gereja, kita disebut melayani Allah dengan harta kita. Saat kita mengatur bangku gereja, menyapu halaman gereja, kita disebut melayani Tuhan dengan tenaga kita. Ditengah kesibukan segala kesibukan pekerjaan, kita masih mau melatih koor di gereja, kita disebut melayani Tuhan dengan talenta kita. Masih banyak lagi contoh yang dapat kita sebut untuk menjelaskan tindakan “melayani” tersebut. Akan tetapi waspadalah supaya jangan kita terjebak untuk mengunakan istilah “melayani” hanya berhubungan dengan bentuk-bentuk kegiatan di gereja saja.
Melayani Tuhan itu luas sekali cakupannya. Untuk menggambarkan secara sederhana kita dapat mengutip ucapan Paulus dalam I Korintus 10:31:”…lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Di dalam gereja atau diluar gereja, dilihat orang ataupun tidak, ketika kita melakukannya dengan baik sebagai respon terhadap kebaikan Allah, itu artinya kita sedang melayani Allah. Itulah sebabnya tidak salah jika kita menyebut “melayani itu gampang.” Memang gampang tetapi bukan gampangan, supaya dihargai orang, daripada nggak ada kerjaan, biar dapet jodoh dan banyak motivasi lainnya yang ternyata bukan untuk kemuliaan Allah.
Salah satu bentuk lain dari melayani Allah adalah seperti yang diungkapkan olej Paulus dalam kitab Roma pasal 14. Bahkan menurut Paulus jika kita melayani Tuhan dengan cara tersebut, kita akan mendapatkan berkat ganda yaitu, akan dihormati oleh manusia dan juga juga dihormati Allah (coba lihat dalam ayat 18)
Roma pasal 12 hingga pasal 15 ditulis oleh Paulus sebagai satu bingkai yang di dalamnya memuat bentuk-bentuk praktis dari pelayanan pada Allah yang harus kita kerjakan. Dan jika kita melihat lebih khusus dalam pasal 14, kita akan menemukan 2 (dua) bentuk praktis dari melayani Allah yang ternyata bukan hanya sebagai kegiatan di atas mimbar gereja. Itulah yang dapat disebut sebagai sisi lain dari pelayanan.
Hal pertama adalah dengan tidak menjadi batu sandungan buat orang lain (ayat 13). Itulah sisi lain dari pelayanan! Frasa batu sandungan datang dari istilah Skandalon dalam terjemahan asli Alkitab, yang dapat diartikan sebagai “sesuatu yang dapat membuat orang lain terusik atau berubah haluan.” Konteks yang disajikan oleh Paulus dalam Roma pasal 14 memang adalah dalam hal apa yang boleh dimakan dan apa yang tidak boleh dimakan. Tetapi jika kita tarik sebuah eksposisi dari kebenaran tersebut, ada banyak hal yang harus kita jaga agar tidak membuat orang lain berubah haluan imannya. Cara berbicara kita yang tidak sopan dapat menjadi sandungan, cara berpakaian kita yang seronok dapat menjadi sandungan, cara bekerja kita yang sembrono juga dapat jadi batu sandungan. Jadi sebenarnya ruang lingkup pelayanan kita sangat luas, bukan hanya di dalam gedung gereja tapi juga di rumah, kantor, sekolah atau di mana saja kita berpijak.
Hal kedua adalah dengan tidak menghakimi orang lain (ayat 3). Mungkin saja jemaat di Roma saat itu sedang mengalami persoalan ini, sebab dalam Roma 14:3 Paulus menyinggungnya. Mereka mengungkapkan, menceritakan sesuatu yang buruk tentang saudara seiman mereka sendiri, dan karena itulah Paulus berkata :”…Janganlah kita saling menghakimi….” (ayat 13) sebab hal penghakiman itu adalah hak Allah, demikian menurut Paulus (ayat 10-12.) Allah ingin kita melayani Dia dengan cara ini juga. Jangan membicarakan sesuatu yang buruk dari orang lain, apalagi jika tanpa bukti. Dan kalaupun terbukti, janganlah terus kita bicarakan sebab seharusnya kasih itu menutupi pelanggaran.
Itulah sisi lain dari melayani Tuhan. Sederhana, praktis tetapi harus dilakukan oleh semua orang Kristen. Jika pelayanan koor gereja membutuhkan ketrampilan menyanyi, bermusik, dan pelayanan berkhotbah membutuhkan ketrampilan berbicara di depan umum serta penguasaan Alkitab yang memadai maka pelayanan mengangkat batu sandungan dan penghakiman kepada orang lain hanya membutuhkan hati yang tulus dan rela dan ingatlah bahwa semua pelayanan itu penting sifatnya, entahkah dilakukan di dalam atau di luar gereja, terlihat langsung ataupun tidak.
Untuk melakukan kedua jenis pelayanan di atas kita dapat mulai melakukannya dengan dua hal sederhana berikut: Pertama, Berilah kesempatan untuk orang lain mengungkapkan haknya dan hormatilah (Roma 14:1.) Kedua, terimalah setiap bentuk perbedaan dan hormatilah, asalkan kita ingat bahwa semua yang kita kerjakan haruslah untuk kemuliaan Tuhan dan sebagai wujud dari penyembahan padaNya (Roma 14:6-8.)
Melayani itu gampang, tetapi bukan gampangan! Selamat melayani!!!
Kamis, 31 Juli 2008
Jika kita diminta menyebutkan berbagai macam penyakit yang ada disekitar kita dan tanda-tanda fisiknya, dengan lancar kita akan menyebut: Influenza. Penderita influenza biasanya terserang deman, menggigil, bersin-bersin. Kemudian sakit kulit, dengan aneka macamnya yang meninggalkan bekas di kulit seperti kurap dan juga panu. Lalu ada juga sakit diare yang membuat penderitanya harus bolak-balik mengunjungi kamar mandi.
Tetapi siapa yang menduga kalau dalam tubuh yang sehat, aktif bekerja, segar-gemuk bisa jadi ternyata sedang “sakit” . Coba kita periksa jangan-jangan kita juga termasuk di dalam golongan orang sehat yang “sakit” seperti diungkapkan oleh Dr. R. Surya Widya Sp. KJ. Malahan orang sehat yang “sakit” ini bukan “sakit” biasa, melainkan sakit jiwa, walau masih golongan rendah.
Menurut Dokter ahli jiwa tersebut, orang sehat yang sebenarnya sedang “sakit” menampakkan beberapa ciri-ciri berikut:
1. Sangat mementingkan diri sendiri (egois) 6. Curang
2. Hutang tidak mau bayar 7. Senang korupsi
3. Tidak tahu malu 8. Tidak mau antri
4. Senang melihat orang lain susah 9. Suka melanggar ketentuan yang berlaku
5. Iri hati melihat orang lain berhasil
Jika kita renungkan lebih jauh, beberapa ciri dari penyakit jiwa golongan rendah tersebut adalah hal-hal yang sangat merusak dan menghancurkan sebuah hubungan. Mari kita mencermati hal-hal tersebut dan membuktikannya dalam kaca mata kebenaran Alkitab.
1. Egois & Iri hati (EGI)
Hubungan yang langgeng dan menguntungkan kedua pihak adalah manakala kedua pihak yang menjalani hubungan tersebut masing-masing tidak mementingkan diri sendiri. Tidak boleh ada yang berpikir “apa yang akan saya dapat dari dia?” Manusia yang berpikir dan bertindak demikian adalah manusia tipe “sedotan atau vacuum cleaner.” Sebuah kalimat bijak mengatakan “jika engkau mengharapkan seorang sahabat engkau akan selalu menunggu tetapi jika engkau mau menjadi sahabat bagi orang lain, banyak orang akan mencarimu!”
Berikutnya, sebuah hubungan akan menjadi hancur apabila kita biarkan di dalamnya tumbuh rasa iri hati terhadap apa pun juga yang dimiliki orang lain. Iri hati terhadap keberhasilan orang lain. Iri hati terhadap rezeki orang lain. Tahukah saudara …? Kabarnya, para nelayan yang menangkap kepiting membiarkan kepiting tangkapannya berada dalam sebuah ember tanpa penutup. Mereka tidak khawatir kepiting-kepiting itu akan keluar dari “penampungannya”, sebab mereka sudah tahu kebiasaan para kepiting. Biasanya jika ada seekor kepiting mencoba memanjat ember untuk “kabur”, rekan-rekannya sibuk untuk menariknya kembali di dasar ember tersebut, demikian seterusnya, siapa pun yang mencoba memanjat akan ditarik hingga kembali terjatuh.
Kalau kita senang melihat teman kita susah, kalau kita benci dengan teman kita yang ingin maju dan mencoba menghalanginya … kita tidak lebih baik dari kepiting! Pada saat seperti itulah iblis masuk dan mengacaukan hubungan kita dengan orang lain. Simaklah apa yang dikatakan Yakobus 3:14-16:
3:14 Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu
memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!
3:15 Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan.
3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
Ada dua “pukulan telak” yang dikirimkan Yakobus bagi manusia-manusia bertipe EGI (EGois & Iri.) Pertama, Yakobus memberitahukan kepada kita bahwa Egois dan iri tidak pernah bersumber dari Tuhan, tapi dari setan. So … manusia yang egois dan iri pasti bukan pengikut Tuhan. Kedua, Yakobus “memukul” dengan kata-kata tajam untuk menyadarkan manusia bahwa EGI pasti menghasilkan kekacauan dan tindakan-tindakan bodoh dan jahat! So … waspadalah … waspadalah!
2. Tidak tahu malu (TTM)
Apa yang biasa dilakukan oleh orang yang tidak tahu malu, terekam jelas dalam Amsal 9:13-17:
9:13 Perempuan bebal cerewet, sangat tidak berpengalaman ia, dan tidak tahu malu.
9:14 Ia duduk di depan pintu rumahnya di atas kursi di tempat-tempat yang tinggi di kota,
9:15 dan orang-orang yang berlalu di jalan, yang lurus jalannya diundangnya dengan kata-kata:
9:16 "Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari"; dan kepada orang yang tidak berakal budi, katanya:
9:17 "Air curian manis, dan roti yang dimakan dengan sembunyi-sembunyi lezat rasanya."
Memang dalam Amsal dikiaskan orang yang tidak tahu malu tersebut adalah seorang perempuan, tetapi kita akan memetik pesan utamanya bukan dari siapa orang yang tidak tahu malu tersebut?.
Perempuan atau laki-laki? Pesan utama yang hendak kita kenali adalah seperti apa polah tingkah orang yang tidak tahu malu tersebut?
Pertama, orang yang tidak tahu malu senang berada diantara keramaian dan selalu mencari perhatian atau menonjolkan dirinya, misalnya saja dengan dandanannya yang mencolok dan tidak pada tempatnya. Kedua, orang yang tidak tahu malu dengan bangga menceritakan pengalaman-pengalamannya, termasuk pengalamannya yang melanggar aturan-aturan.
Coba bayangkan apa jadinya jika sahabat kita ternyata orang yang tidak tahu malu? Dan masih saja di dekat kita? “CAPE’DEH….!” Pasti kita tidak tahan! Bisa jadi dia pernah meminjam dasi kita dan pura-pura lupa mengembalikan. Atau dia meminjam uang kita dan tetap sok akrab, sok baik dan jika ditagih jawabnya selalu tar-sok, tar-sok alias entar – besok, entar – besok. Kalau ternyata ada orang disekitar anda, rekan bisnis, tetangga, teman kuliah, segeralah mendoakan mereka sebab mereka sedang SAKIT JIWA!
Fajar merekah, menyembul muncul mengganti langit kelam di tahun silam
Semburat merah di timur muncul dan membuat luntur embun yang semalaman tergolek di atas rumput dan dedaunan
Isak tangis, derai tawa…peluh bahkan cucuran darah
Bukanlah ukuran kebahagiaan
Yang kemarin terjadi bukan berarti esok tak kan datang lagi
Tapi bukan juga untuk ditakuti
Kebahagiaan datang seperti fajar yang merekah..
Saat hidup ini terarah dalam langkah..
Tak takut melepaskan kalau memang harus dilepaskan
Tidak juga gentar untuk memikul jika memang harus kita yang menanggung
Kebahagiaan datang seperti fajar yang bersinar
Saat hidup ini dilalui dengan benar..
Tetap kokoh walau menangis
Dan tidak lengah walau tertawa..
Nanang
Kematian adalah peristiwa, terpisahnya roh dari tubuh. Kematian datang menjemput kapan saja, dimana saja, dan tidak pandang bulu. Dan dimana saja peristiwa kematian terjadi selalu ada air mata yang jatuh menetes. Entahkah mereka dari keluarga yang berada atau pun yang kurang mampu.
Ada beberapa sebab yang menjadikan kita menangis pada waktu kematian menjemput orang-orang yang kita kasihi. Pertama, kita menangis saat kita menyadari bahwa tubuh kita (jasad) ini terpisah dengan orang yang kita kasihi. Kita tidak dapat bicara lagi dengan dia, dia tidak lagi menjawab keluh kesah kita. Semakin lama dan dalam kita mengenal orang yang meninggal tersebut, semakin jelas goresan kesan yang ditinggalkannya. Kedua, kita menangis karena mengingat kebaikan-kebaikan orang tersebut, kita tidak akan menjumpainya lagi, semuanya tinggal kenangan.
Ketiga, kita menangis karena penyesalan. Menyesali karena kita merasa belum bisa membahagiakan orang tersebut, atau kita merasa belum bisa membalas kebaikannya. Atau mungkin juga menyesal karena kita belum meminta maaf atas kesalahan kita, atau karena kita tidak mendengarkan permintaan terakhirnya. Sebab keempat, mengapa kita menangis dalam peristiwa kematian orang-orang yang kita kasihi adalah karena kita tidak puas, tidak mengerti rencana Tuhan. Dalam keadaan begini Tuhan serasa jauh diseberang dan kita ditinggalkan sendirian ditepian jurang kesunyian.
Bisa jadi, kita menangis meraung-raung karena keempat sebab di atas kita rasakan semuanya dan kita menjadi stress. Rasanya kumpulan alasan itulah yang menyebabkan seorang bapak muda dan isterinya menangis sesenggukan di Jum,at pagi yang sunyi 24 Juni 2004 lalu. Air matanya terkuras, setelah semalaman menangis menunggui jasad putri keduanya yang masih orok. Suami-isteri muda ini, sepertinya “complain” dengan situasi yang dialaminya. Mereka menjerit mengapa semua ini harus terjadi? Si orok yang meninggal itu lahir dengan prematur, ditengah situasi kantong si bapak yang juga prematur.
Untuk biaya bersalin di bidan ia harus ngutang, untuk beli susu khusus bayi prematur ia harus banting tulang. Tapi apa yang terjadi? Dua minggu berselang, si orok berpulang, meninggalkan bapak dan emaknya yang menanggung hutang. Pagi 24 Juni yang sepi itu, air mata mereka habis, tapi duka belum juga berakhir, rumah petak yang mereka kontrak seperti mau meledak mendengar berita bahwa si orok tidak bisa dimakamkan menurut kepercayaan si bapak yang Nasrani asli. Maklum makam itu tidak menerima anggota Nasrani.
Saat seperti itulah mereka juga harus menelan nasehat Zofar pada Ayub yang menderita: “Dapatkah engkau memahami hakekat Allah…tingginya seperti langit….(Ayub 11:7-8) Mereka harus berdamai dengan kenyataan. Kenyataan bahwa mereka tidak dapat menyelami semua rencana Allah.
Memang yang kita sesalkan adalah, mengapa ditengah duka yang mendalam masih ada saja orang yang memberi patok-patok pada kuburan dengan istilah kuburan Kristen dan bukan Kristen. Hidup dibedakan, matipun dibedakan. Bukankah setelah jasad kita mati, semua akan menjadi debu tanah? Kalau hidup layak menjadi sesuatu yang mahal, mengapa mati dan dikubur secara layak juga ikutan mahal? Mahal dari segi administrasi sampai urusan gali-menggali. Kalau saja masih ada kekuatan, mungkin bapak muda tadi akan berkata dengan lemah: “tolong jangan tambah duka kami”
Segenggam Perasaan thd Kel. Marulituo Situmorang
mylove
Sepuluh tahun yang lalu aku didekap anugerah saat boleh mengenalmu
Dan aku tersanjung untuk itu…
Sembilan tahun yang lalu itulah tahun pertama kamu menjadi kekasihku
Dan aku tersanjung karena itu..
Delapan tahun lalu aku bercucur air mata melepas kepergianmu
Aku tetap tersanjung pernah memiliki cintamu…
Tujuh tahun lalu, aku tak mampu menipu diriku untuk mengakui..
Aku masih mengharapkanmu…
Dan aku tersanjung karena engkaupun begitu…
Enam tahun lalu cintaku semakin merekah dan bertambah untukmu
Dan aku tersanjung karena engkau masih disampingku…
Lima tahun lalu..hidupku terpatri dalam janji sehati
Untuk mencintai dan terus berbagi
Dan aku sangat tersanjung mendekap cintamu yang abadi
Empat tahun yang lalu aku menemukan pesan jiwa yang merdu
Sungguh engkaulah anugerah Tuhan bagi pria sepertiku..
Dan aku tersanjung mendampingimu
Tiga tahun lalu.. cinta dan kebanggan akan dirimu memagut sukma
S’bab denganmu pesan dari surga itu nyata bersama hadirnya buah cinta
Dan aku tersanjung kau pilih sebagai belahan jiwa
Dua tahun silam engkau terus menemaniku melintasi malam yang kelam dalam kehidupan…
Engkau menangis saat aku menitikan air mata
Engkau juga tersenyum saat aku tampak bahagia…
Aku sangat tersanjung mengenang bahwa aku tak pernah sendirian
Setahun yang lalu aku terus bertanya: “siapa aku?”
Hingga Tuhan memberikan mutiara sepertimu padaku..
Dan aku tersanjung menerima engkau wahai belahan jiwaku..
Love….
Dari rentang waktu-waktu yang telah kita lewati
Kita mengerti bahwa cinta kasih kita tak semanis mimpi
Tidak juga selalu indah bak pelangi
Tapi aku tetap tersanjung memiliki cintamu..
Apapun adanya dirimu..itu anugerah terindah dalam hidupku!
Buat cintaku K. C. M.
02012007
Suatu hari Konfusius atau Kung Fu Tse seorang guru dan juga filsuf pada zaman Cino Kuno pernah ditanya oleh seorang muridnya: “Guru, semakin banyak yang kita pelajari, semakain banyak pula yang kita tahu. Dari sekian banyak hal itu apa yang paling perlu kita pelajari?” Sang guru terdiam sejenak, lalu ia menjawab dengan mantap: “Li…adalah hal yang paling perlu kita pelajari!” Apa itu Li ? “Li” adalah “peran yang sesuai dengan hakekat” atau juga dapat diartikan sebagai sebuah “sikap yang patut”
Kung Fu Tse mengajarkan bahwa di dunia ini ada panca hubungan. Kelima hubungan itu adalah, hubungan raja- rakyat; suami-istri; orang tua-anak; kakak-adik; dan atasan-bawahan. Hidup ini akan berjalan dengan baik, indah, rukun apabila setiap orang mampu berperan sesuai dengan hakekat masing-masing. Setiap orang paham Li-nya masing-masing. Seorang raja harus berperan sesuai dengan hakekatnya sebagai raja yang mengayomi rakyatnya. Seorang rakyat harus berperilaku sebagaimana seharusnya rakyat yang menghormati dan membantu rajanya. Seorang suami juga harus menjalankan perannya sebagai suami yang bertanggung jawab terhadap isterinya, menjadi kepala atas rumah tangganya, dan isteri juga harus bertindak sebagaimana seharusnya seorang penolong bagi suaminya. Anak-anak berperilaku sebagaimana seorang anak yang menghormati dan mentaati orang tuanya demikian seterusnya.
Jika kita tarik benang merah falsafah Kung Fu Tse tersebut dan kita ikatkan pada dunia didik-mendidik, maka kita akan menemukan sebuah kebenaran tentang tujuan pendidikan. Entahkah di rumah, di sekolah, di gereja atau di mana saja, seharusnya tujuan pendidikan adalah untuk membawa, membimbing dan mengarahkan seorang murid memahami, menemukan hakekat dirinya atau Li tersebut. Dengan kata lain, pendidikan yang berhasil haruslah membawa seorang peserta didik untuk menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi seperti si ini dan si itu!
Inilah seni mendidik sekaligus tantangan dalam mendidik, baik bagi seorang bapak dalam mendidik anak, seorang suami mendidik isterinya, seorang raja mendidik rakyatnya, seorang kakak mendidik adiknya atau seorang bos mendidik anak buahnya. Seorang pendidik tidak boleh memaksakan peserta didik untuk menjadi seperti yang dia mau. Bahkan akan lebih celaka lagi jika sang guru sendiri belum menemukan Li-nya! Dia juga belum yakin, dia itu siapa, seharusnya jadi apa? Jadi, dari semua falsafah yang dilontarkan Kung Fu Tse tentang pendidikan ini, kita dapat memetik 2 pelajaran penting tentang didik-mendidik, khususnya bagi sang pendidik atau calon pendidik.
Pertama, seorang pendidik; entahkah dia seorang raja, bos, bapak, kakak atau yang lainnya haruslah berjuang menemukan Li-nya. Berjuang mencari jati dirinya. Jika dia belum bisa berperan sesuai dengan hakekatnya sendiri, dia belum layak menjadi seorang pendidik. Seorang pendidik tidak boleh mengajarkan sesuatu karena “…katanya….si ini, katanya si itu….” Dia harus mantap karena telah melakukan. Ingatlah bahwa Yesus berhasil menjadi seorang guru yang baik karena dia tahu untuk apa dia harus ada di dunia ini? Karena apa dia harus jadi guru? Jawabannya adalah karena Yesus mau melakukan kehendak Bapa-Nya (Yohanes 4:34). Sang Bapa memang ingin Yesus menjadi pengajar didunia yang kurang ajar ini. Karena Yesus tahu panggilannya ini, Dia mampu memberikan bahan pelajaran secara sederhana; misalnya melalui perumpamaan-perumpamaan yang menggunakan kisah hidup sehari-hari dan yang sangat dipahami oleh masyarakat pada zaman itu.
Melakukan metode tertentu di dalam mendidik seharusnya lahir bukan karena ikut-ikutan, tetapi harus karena seorang pendidik mengetahu bahwa ia memang terpanggil untuk mendidik. Bukan terpanggil untuk masa bodoh. Secara umum Li kita di dunia ini adalah untuk menjadi garam dan terang (Matius 5:13-14) dan semua tindakan kita untuk mendidik harus dengan landasan itu; “membentuk peserta didik menjadi garam dan terang di dunia yang kurang asin dan gelap ini.” Tetapi tidak berhenti sampai di sana, seorang pendidik harus menemukan Li-nya secara khusus. Bagaimana caranya? Tentu hanya bisa ditemukan ketika dia bertanya kepada Tuhan dan berani mencoba setiap kemungkinan yang ada serta semakin mengasah kemampuannya. Artinya, suatu hari nanti, seorang pendidik tidak harus mengerjakan semua hal. Tidak semua bidang harus dia kuasai, tidak semua umur harus diajarnya, tetapi hari demi hari dia harus menjadi semakin tajam pada sebuah bidang tertentu.
Hikmat kedua yang patut diperhatikan oleh seorang pendidik adalah, seorang pendidik atau calon pendidik, tidak akan pernah menjadi pendidik yang baik sebelum dia menjadi murid yang baik. Golda Meier mantan perdana menteri Israel pernah berkata: “Jika seseorang tidak tahu bagaimana menangis, ia juga tidak tahu bagaimana seharusnya tertawa.”
Dalam konteks didik-mendidik perkataan tersebut dapat diartikan seorang pemimpin tidak akan menjadi pemimpin yang baik jika dia belum menjadi bawahan yang baik. Seorang bapak tidak akan menjadi bapak yang baik jika dia tidak pernah menjadi anak yang baik. Intinya adalah, kita tidak akan pernah menghargai sesuatu sampai kita merasakan sendiri sesuatu itu.
Dalam Lukas 14:26-33; Lukas 18:22, Yesus pernah mengajarkan tentang menjadi seorang murid yang baik. Menjadi murid yang baik haruslah menjadi murid yang rela terikat kepada gurunya dalam arti dia memutuskan untuk patuh hanya kepada gurunya dan semua ajaran gurunya, bukan kepada orang lain atau budaya lain (Simak Lukas 14:26) Selain itu, seorang murid yang baik harus menyangkal diri, artinya rela menaklukan segala kemauannya kepada kemauan sang guru. Tidak memberontak dan yakin bahwa sang guru hendak membawanya mencapai keberhasilan. Jadi jangan heran kalau sekarang murid kita; bisa anak, bisa bawahan, bisa isteri memberontak terhadap apa yang kita ajarkan. Periksa diri kita dulu, waktu kita juga jadi anak, atau murid, atau bawahan, jangan-jangan kita tidak patuh pada pendidik kita, kekeuh pada mau kita sendiri.
Jangan lupa juga, kita bisa menemukan Li kita saat kita menjadi murid yang baik, nurut pada apa yang diajarkan guru kita. Murid perlu guru, itu sama dengan manusia butuh cermin buat ngaca, sebab dengan ngaca kita tahu mana yang kurang pas dengan dandanan kita. Akhirnya, saya cuma bisa berkata: “Nggak gampang dan nggak bakalan berhasil mendidik orang, apalagi kalau kita sendiri nggak pernah mau dididik.”
(Pernah dimuat dalam majalah Suara Kharismatika Juni 2006)
Bijaksana
Cowok kecil hitam manis itu namanya Heru. Heru masih kelas 5 SD. Orang tuanya saya kenal baik karena mereka bekerja dan tinggal di sebuah villa di daerah puncak yang kami (saya dan teman-teman pelayan) sering gunakan untuk doa dan puasa.
Heru dan orang tuanya hidup dengan sederhana ditengah villa-villa mewah yang sedap dipandang di sekeliling mereka (apalagi buat orang dusun yang sederhana seperti mereka.) Setiap kali ada di sana saya sering melihat Heru pergi, kadang ke gereja kadang pergi les atau kadang juga karena disuruh bapaknya sekedar ke warung yang semua tempatnya ada diluar area villa-villa mewah tersebut. Dibekali dengan sepeda ala federal yang sadel-nya sudah keras seperti batu, Heru dengan kaki kecilnya mengayuh pedal sepedanya melewati jalanan yang di kitari bunga beraneka warna dan pepohonan. Jalanan naik turun, berbelok-belok sudah menjadi rute Heru setiap hari.
Saya membayangkan kalau Heru harus dua atau tiga kali dalan sehari melewati jalanan yang naik-turun tadi. Wah..wah betapa capek-nya sepasang kaki kecil milik Heru. Saya pernah mencoba keluar dari area villa-villa tersebut berbekal sepeda pinjaman (milik si Heru yang sadel-nya keras seperti batu) saya sempat menggerutu dalam hati. Wah amit-amit nafas sudah mau putus rasanya, apalagi waktu mau keluar dari area itu, jalanannya dipenuhi tanjakan. Berat sekali, bahkan rasanya lebih enak jalan kaki.
Mungkin Heru sudah tidak merasa se-capek saya karena suda terbiasa. Tapi namanya manusia apalagi anak-anak rasa capek waktu mau keluar area itu pasti dia rasakan. Waktu jalanan menanjak seperti itu dalam benak saya kepengin banget cepetan balik karena jalanan turun. Pasti enak pikir saya tidak perlu kayuh pedal. Mungkin harapan saya tadi sama seperti harapan Heru, cepetan balik karena jalanan turun dan kaki tidak lagi pegal-pegal.
Cerita tentang hidup Heru tadi rasanya tidak jauh beda dengan kehidupan sehari-hari yang sering kita alami. Pernah kita sama-sama rasakan betapa berat tantangan yang kita hadapi, kadang juga kita bertanya-tanya: …Oh Tuhan kapan jalanan menanjak ini akan berakhir? Bisa jadi saking tidak kuatnya mengayuh pedal kehidupan orang jadi menyalahkan Tuhan. Tuhan tidak adil-lah, Tuhan cuek-lah, bahkan ujung-ujungnya bilang Tuhan itu tidak ada. Gawat ndak?
Kita semua pasti ingin jalan kehidupan kita melaju dengan nyaman tanpa perlu capek-capek mengayuh pedal seperti jalanan yang turun menuju rumah Heru tadi. Tapi itulah kehidupan, kita harus menerima baik jalan menanjak yang membuat kita berpeluh mengayuh ataupun jalan turun yang menjadikan roda kehidupan menggelinding dengan bebas tanpa harus dikayuh. Mungkin kita semua perlu belajar untuk memiliki sikap menerima dengan hati bersyukur apapun jalan yang sedang kita tapaki saat ini.
Cuman sayangnya kita ini sering susah kalau disuruh bersyukur apalagi kalau persoalan-persoalan berat tengah membelit. Tapi bersyukurlah karena ada seorang yang dengan hikmat Allah yaitu Salomo mengajarkan kita bagaimana kita dapat menjadi orang yang nrimo (menerima) dengan lapang dada apa adannya kehidupan ini. Dalam Kitab Pengkhotbah 3:11 Salomo mengatakan bahwa …Allah akan menjadikan semua indah pada waktu-Nya, dan kita harus nrimo juga bahwa kita tidak dapat menyelami semua yang dikerjakan oleh Allah. Kita hanya dapat percaya bahwa waktunya Tuhan itu yang paling pas buat kita mencicipi sesuatu dan kita harus percaya bahwa semua yang dirancangkan Allah itu baik adanya. Amin.
E,e….e jangan lupa juga jalanan yang turun, menggelinding itu bahaya juga lho, kalau kita tidak bisa nge-rem. Jangan sampai juga karena ke-enakan menggelinding, kita lupa daratan, lupa bahwa yang membuat semua menggelinding dengan nyaman juga Tuhan. Bersyukur sajalah, biar menanjak atau menggelinding jalan hidup kita, yang penting bersama Tuhan. Baca sendiri Roma 8:28!