Sabtu, 18 Desember 2010

Terarah Dalam Langkah

Fajar merekah, menyembul muncul mengganti langit kelam di tahun silam
Semburat merah di timur muncul dan membuat luntur embun yang semalaman tergolek di atas rumput dan dedaunan

Isak tangis, derai tawa…peluh bahkan cucuran darah
Bukanlah ukuran kebahagiaan
Yang kemarin terjadi bukan berarti esok tak kan datang lagi
Tapi bukan juga untuk ditakuti

Kebahagiaan datang seperti fajar yang merekah..
Saat hidup ini terarah dalam langkah..
Tak takut melepaskan kalau memang harus dilepaskan
Tidak juga gentar untuk memikul jika memang harus kita yang menanggung

Kebahagiaan datang seperti fajar yang bersinar
Saat hidup ini dilalui dengan benar..
Tetap kokoh walau menangis
Dan tidak lengah walau tertawa..

(nanang)

Sabtu, 27 November 2010

Tak Berkesudahan Kasih Setia Tuhan

Refleksi atas Kitab Ratapan Pasal 3

Di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, terdapat sebuah obyek wisata yang unik. Di sana terdapat api yang tak kunjung padam di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan. Hebatnya, api yang muncul di permukaan tanah ini tidak pernah padam meski diguyur hujan lebat. Apakah warga disana tidak takut dengan resiko kebakaran? Rasanya tidak, sebab api hanya menyala di tanah sekitar lingkaran pagar yang dibuat warga. Jika tanah di sekitar titik api digali, nyala api akan menjadi besar. Kabarnya nyala api tersebut sama seperti api dari kompor gas yang biru dan bertekanan udara. Tak jarang para pelancong memanfaatkan api abadi itu untuk membakar ayam atau jagung yang sengaja disediakan pedagang di sekitar lokasi.

Itulah bagian kecil dari banyak keajaiban lain di negeri tercinta ini. Jika kita mengingat berbagai keajaiban atau keindahan di dunia ini tentu saja semuanya tak dapat dilepaskan dari sosok agung yang menciptakan dan memelihara semesta ini. Dialah Allah yang kita kenal di dalam nama Yesus Kristus. Alkitab mengatakan bahwa rahmatNya tidak akan pernah habis bagi sekalian umat. Kesetiaannya tak akan pernah menyusut bagi segenap orang yang berharap kepadaNya (Ratapan 3:25). Hal yang luar biasa tentang janji Allah di dalam kitab Ratapan itu adalah bahwa janji itu diberikan Allah ditengah kesesakan karena runtuhnya Yerusalem.

Lalu apa maknanya bagi kita? Tuhan memberi jawab atas pertanyaan itu di dalam Ratapan 3:31-32: “Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan, karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setiaNya.” Itu artinya Tuhan pasti akan membawa pemulihan bagi bangsa kita. Dia juga akan memulihkan gerejaNya dan tentu saja Ia akan memulihkan keluarga kita, apapun tantangan yang saat ini menghadang. Jangan lelah menantikan Dia sebab Alkitab berkata: “Adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan.”( Ratapan 3:26)

Renungan :Menanti memang merupakan pekerjaan yang membosankan, tetapi percayalah bahwa jika kita menanti-nantikan Allah (berharap penuh kepadaNya) Dia akan membuat kita bersorak-sorai. Teguhkanlah hatimu sebab Dia dekat saat engkau memanggil namaNya (Ratapan 3:57)

Selasa, 31 Agustus 2010

Aku puas dengan rupaMu (Maz 17)

John Maxwell pernah menuliskan bahwa orang Kristiani yang lemah hanya melihat kebaikan di dalam Allah. Ketika kebaikan berdatangan, seorang Kristen yang lemah dan belum dewasa akan berkata: “ Hmm, segala sesuatunya berjalan begitu lancar, saya tahu Allah pasti hadir didalamnya.” Selanjutnya Maxwell menuliskan juga bahwa seorang Kristen yang kuat melihat Allah baik dalam keadaan susah maupun senang. Tentu saja ini sejalan dengan keyakinan Paulus dalam Kitab Roma 8:28 bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap pribadi yang mengasihiNya.

Pendapat Maxwell tersebut di atas tentu saja benar, sebab seorang anak Tuhan yang taat sekalipun, masih mungkin akan mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan di dalam hidupnya . Rintihan doa Daud di dalam Mazmur 17 adalah salah satu contoh bahwa seorang yang dikenan oleh Allah sekalipun dapat berada dalam tekanan. Dalam hal ini Daud merasa ada dalam penghakiman, kepungan dan akan dijatuhkan oleh musuh-musuhnya. Tetapi sekali lagi, sebagai seorang yang dekat dengan Tuhan, Daud menunjukkan kualitasnya dalam menghadapi tekanan. Daud menanggapi situasinya dengan bijak dan tepat.

Charles Swindoll pernah mengatakan bahwa kualitas kehidupan kita 10% ditentukan dari apa yang menimpa kita dan 90% ditentukan oleh reaksi kita atas apa yang menimpa kita. Simaklah tanggapan Daud saat berada di dalam tekanan: “ . . .dalam kebenaran akan kupandang wajahMu, dan . . .aku akan menjadi puas dengan rupaMu.”(15) Dengan memandang wajah Allah (bersekutu dengan Allah) Daud merasa mendapat kepuasan. Kepuasan apa yang keluar dari wajah Allah? Jawabnya ada pada Mazmur Daud yang lain. Bacalah Maz. 4:7 (wajahNya adalah gambaran dari terang yang akan menerangi kita dari gelapnya ujian hidup); Maz. 31:21 (wajahNya adalah gambaran tempat perlindungan dari niat jahat manusia untuk menjatuhkan kita); Maz.34:17 (wajahNya juga merupakan gambaran kekuatan Allah yang akan menentang orang-orang jahat yang hendak menciderai umatNya). Sungguh, aku puas dengan rupaMu!

Tanyakan pada dirimu, apa yang benar-benar memuaskanmu hari-hari ini? Kekayaankah? Prestasi-prestasi? Jabatan? Semua itu mudah berlalu dan ketika hal itu berlalu, kita akan kehilangan arti. Namun jika kita pandang wajah Allah, apapun situasi hidup kita, Dia akan bertindak dan memberikan kekuatan pada kita.

Rabu, 17 Februari 2010

Renungan

HIDUP DAN MENJADI YANG TERBAIK
(Kej. 10:6-12)

Hidup kita di bumi ini boleh dikata tak lebih dari sepenggal drama bertitel “Pengembaraan dalam Kefanaan.” Hal ini karena pendeknya masa pengelanaan itu dan cepatnya hari-hari itu kita lewati. Seorang pengelana bernama Musa pernah berujar : “ Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” Tetapi akan menjadi sebuh ironi jika masa-masa yang singkat dalam hidup itu kita biarkan berlalu begitu saja. Rugi bagi kita kalau hidup hanya untuk ngantri mati. Simaklah baris-baris syair berikut yang menunjukkan betapa berharganya hidup ini:
Hidup itu indah, sayang jika dihabiskan untuk berkeluh kesah
Hidup itu manis, rugi jika dihabiskan hanya untuk menangis
Hidup juga terjal dan tak akan ada puncak jika kita terus bersandar ditepi bantal
Hidup juga penuh persimpangan dan kita akan tersesat tanpa pegangan.

Sahabat, jika kita jeli mencermati Kejadian 10:1-32 yang berisi daftar keturunan Sem, Ham dan Yafet, maka kita menemukan satu nama yang diulas lebih banyak oleh penulis Kitab Kejadian daripada nama-nama lainnya. Sosok tersebut adalah Nimrod (Kej. 10:8-12). Nimrod adalah seorang penguasa mula-mula dalam tatanan masyarakat purba. Memang kemudian Tuhan menyerakkan menara kesombongan kaum yang dipimpin Nimrod, tetapi dari sisi pengembangan diri tampak sekali Nimrod adalah sosok manusia yang terus melatih kapasitasnya hingga Alkitab versi King James mengatakan pada ayat 8: “he began to be a mighty one...” Sahabat, tahukah engkau bahwa kata “mighty /berkuasa” di sana diterjemahkan dari kata gibbor-gibbor yang mengandung makna orang yang kuat, seorang pejuang, seorang pahlawan, seorang pemimpin dan juga juara. Luar biasa pria ini! Ia tidak hanya bermimpi tapi juga berjuang mewujudkan mimpi itu.
Sahabat, manusia diciptakan oeh Allah menurut gambar dan rupaNya. Ini berarti di dalam diri kita terkandung potensi yang luar biasa dan harus kita kembangkan tanpa pernah putus asa.

Olimpiade Beijing 2008 yang lalu juga mencatat sejarah perjuangan seorang wanita cacat yang berlaga melawan orang-orang normal. Walau tidak menjadi juara tetapi perjuangan Natalie Du Toit dalam lomba marathon renang sungguh menginspirasi. Dia tidak menyerah dengan kaki kirinya yang harus diamputasi mulai dari lutut ke bawah, ia melatih dirinya hingga dalam kualifikasi menempati peringkat kedua dengan catatan waktu 2 jam 2 menit 7,8 detik, terpaut 5,1 detik dari sang juara Larisa Ilchenko. Du Toit mengalahkan banyak perenang dengan tubuh normal. Sahabat, janganlah menyerah apapun keadaanmu dan jadilah yang terbaik!
Hari ini mulailah menapak dengan penuh keyakinan bahwa langkah kecil kita hari ini akan menghasilkan sejarah besar di esok hari. Jangan ragu. Percayalah, bersamNya kita pasti mampu menjadi pembuat sejarah. Ingat janjinya dalam Kejadian 12:2: “ Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.”

Senin, 08 Februari 2010

Renungan

MEMBAWA PERUBAHAN

Kapan sebenarnya kita menjadi tua? Dalam artian bertambahnya bilangan usia? Ya, itu menunjukkan bukti fisik ketika seseorang berangsur tua. Bahkan sejatinya proses penuaan itu dimulai ketika kita dilahirkan. Tetapi dalam hubungannya dengan motivasi & semangat, seseorang disebut tua ketika ia tidak sanggup lagi menghadapi suatu perubahan. Setidaknya itu terbukti didalam diri S.I. Hayakawa yang pernah menjadi presiden San Francisco State University. Setelah pensiun dari jabatan prestisiusnya tersebut, bukan berarti saatnya berdiam dan menghitung hari. Pada usia tujuh puluh tahun Hayakawa justru membuat terobosan dengan menjadi anggota senat Amerika.

Jadi, berapapun usia kita saat ini...apapun profesi kita sekarang,kita harus membuat perubahan. Ketika tidak ada perubahan, kemajuan, pertumbuhan dalam hidup kita, saat itulah Saudara dan Saya telah menjadi tua! Tidak ada kata terlambat bagi kita untuk bertumbuh secara rohani ataupun secara intelektualitas.Teruslah belajar. Teruslah berinovasi. Teruslah berjuang. Selama masih ada semangat, Anda belum terlalu tua!

Ada dua hal sederhana yang dapat kita tiru dari Raja Yehuda bernama ASA, dan dua hal inilah yang harus mendasari sebuah perubahan yang baik. Pertama, lakukan apa yang baik. Baik dalam arti tindakan yang berhubungan dengan sesama kita. Jangan melukai sesama, tetapi memberkati. Jangan mencuri dari sesama tetapi memberi. Jangan menjerumuskan sesama, tetapi mengentaskan mereka dari keterpurukkan. Kedua, lakukan apa yang benar dimata Tuhan. Benar dalam arti,tepat,lurus-lurus sesuai dengan kehendak Tuhan. Jangan coba-coba serong, walau hanya sepersekian derajat. Inilah bisnis orang percaya: MEMBUAT PERUBAHAN! (Tentu yang positif). Simak 2 Taw. 14:2

Minggu, 07 Februari 2010

Renungan

Dua Pokok Penting Dalam Hidup
Pengkhotbah 7:1 – 4

Jika kita berbicara soal harta benda-kekayaan, tidak ada orang yang mengaku cukup kaya. Hal itu berarti pula bahwa manusia cenderung merasa tidak puas dengan apa yang dimilikinya. Salah satu kisah yang tepat menggambarkan hal ini adalah kisah tentang nenek renta di Florida yang meninggal sebagai orang miskin, gembel, walau sejatinya dia memiliki 1 juta dolar Amerika sebagai harta milik. Dia terus saja mengemis untuk makan walau dia sebenarnya kaya, dia tidak pernah mau berbagi kepada orang lain. Dia hanya dikenal sebagai gembel setelah meninggal. Benarkah kekayaan, harta benda itu bernilai lebih dari hal lainnya dalam hidup ini? Melalui pesan dalam teks di atas kita disadarkan kembali akan beberapa pokok penting yang perlu kita renungkan dalam kehidupan.
Pertama, hidup ini sifatnya sementara dan berakhirnya tidak terduga. Pengkhotbah mengajarkan sebuah hikmat yang tak terduga yaitu tingginya nilai rumah duka. Di sana ia mengatakan bahwa rumah duka adalah kesudahan semua manusia. Pada ayat ke 2-3 dikatakan bahwa “...dirumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya....” Apa yang harus diperhatikan? Tentu saja sifat dari kematian yang sering tidak terduga dan mengejutkan orang lain. Kerap orang berpikir “hidup adalah anugerah...nikmati sajalah!” Memang betul demikian tetapi Pengkhotbah pada pasal yang sama, ayat ke 8 berkata juga: “Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya....” Jadi, ada baiknya waktu kita hidup seperti sekarang, kita juga memikirkan menyelesaikan garis akhir hidup kita dengan baik.
Kedua, dalam hidup ini, nama baik lebih penting dari pada minyak. Coba kita simak Kitab Pengkhotbah 7:1, di sana dikatakan bahwa “nama yang harum lebih baik dari pada minyak....” Kalimat ini tepat dengan peribahasa yang kita pahami bersama yaitu “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama baik.” Nama baik lebih berharga daripada minyak yang merupakan simbol dari kelimpahan atau kepemilikan terhadap harta benda. Apakah minyak (harta) merupakan sebuah hal yang tidak kita perlukan? Semua orang perlu harta, tetapi Pengkhotbah mengatakan nama harum adalah LEBIH BAIK. Berarti memiliki harta saja bagi manusia baru memiliki hal yang BAIK belum LEBIH BAIK. Karena itu, usahakanlah nama baik dan jagalah melebihi kita menjaga harta benda.
Saudaraku, konon kabarnya cara pemburu menangkap monyet sangat sederhana, ia cukup meletakkan suatu makanan kesukaan monyet di dalam sebuah botol terbuka. Ketika seekor monyet melihat makanan di dalam botol itu, buru-buru ia memasukkan tangannya ke dalam botol dan menggenggam makanan itu. Apa yang terjadi selanjutnya? Si monyet kesulitan mengeluarkan tangannya dari dalam botol sebab ia enggan melepaskan genggaman tangan yang berisi makanan. Pada saat itulah para pemburu menyergapnya dan kemudian membunuh atau menjualnya. Apa maknanya bagi kita? Seringkali kita memilih menggenggam tangan untuk mempertahankan harta kita, dan mengabaikan halyang lebih penting daripada harta itu, yaitu hidup kita sendiri dan sesama kita. Akhirnya kita kehilangan kebebasan, kehilangan sahabat dan saudara hanya karena kita mempertahankan harta secara membabi buta. Hidup ini fana, harta juga fana tapi nama baik dikenang orang sepanjang masa!.

Senin, 01 Februari 2010

Ringkasan Buku

SOLUTION-FOCUSED PASTORAL COUNSELING
PENULIS: DR. CHARLES ALLEN KOLLAR
DITERBITKAN: ZONDERVAN PUBLISHING HOUSE, 1997

Pendahuluan
Buku karya Dr. Charles Allen Kollar ini disajikan ke dalam dua bagian besar. Bagian pertama menjelaskan dan menggambarkan model teoritis yang mendukung pendekatan-pendekatan dalam konseling Kristen. Bagian ini disajikan mulai bab 1 hingga bab 8. Sedangkan bagian kedua dari buku ini, yakni bab 9 hingga bab 16, mulai bergerak dari hal-hal yang bersifat teoritis menuju hal-hal yang bersifat praktis.

Bagian Pertama: Bab 1-8
Dr. Kollar memulai tulisannya tentang konseling pastoral yang berfokus pada solusi dengan menguraikan tentang “Paradigma Individual.” Dengan mengutip sebuah kalimat bijak yang berkata: “Pikiran kita seringkali seperti sebuah payung yang akan bekerja lebih baik (akan sangat bermanfaat) apabila payung tersebut terbuka,” Dr. Kollar menyadarkan kita bahwa kadangkala visi kita menjadi kabur atau tertutup saat kita berada di tengah-tengah krisis. Kita kerap berasumsi bahwa masa depan hanyalah suatu kelanjutan dari masa lalu yang buruk. Itulah yang disebut dengan paradigma individu. Paradigma individu menyaring semua informasi dan informasi-informasi lainnya yang tidak pantas.
Karena paradigma tertentu di dalam dirinya, manusia sering gagal menemukan berbagai hal baik di masa depan. Paradigma seseorang mempunyai kekuatan untuk membuatnya bertahan dalam mendengar dan melihat apa yang dapat terjadi. Kita perlu memahami dan menyelesaikan permasalahan. Kita harus percaya bahwa untuk mendefinisikan sebuah persoalan, kita harus mulai dengan menyelesaikan persoalan itu sendiri. Kebanyakan konseli datang kepada konselor dengan paradigma individu yang terfokus pada persoalan yang secara negatif sangat mempengaruhinya. Sebagai seorang konselor, kita seharusnya menyelidiki masalah, mencari tahu bagaimana cara berpikir, bersikap, mengetahui bagaimana perasaan konseli, dan setelah itu kita harus mengubah paradigma mereka dari problem focused kepada solution focused, sebab paradigma yang baik adalah paradigma yang berfokus kepada solusi.
Berikutnya, Dr. Kollar mendiskusikan tentang iman Kristen sebagai model dan juga dasar bagi konseling. Beranjak dari Kitab 2 Korintus 5:17 yang mengatakan bahwa “Barangsiapa yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru,” ia meyakinkan bahwa ayat tersebut menjanjikan sebuah perubahan yang sangat besar dan mendalam. Konseling pastoral yang berfokus pada solusi secara khusus mencoba memindahkan konseli, maju kepada kehidupnnya yang baru. Menurut Dr. Kollar, hal ini berarti bahwa sebagai konselor, kita harus masuk di dunia “kesehatan mental”, seperti yang juga dilakukannya. Dalam hal ini, konselor haruslah cakap dalam masalah-masalah emosi agar pekerjaannya menjadi efektif. Penulis buku ini percaya bahwa tugas konselor adalah untuk melihat karya Roh Kudus di dalam kehidupan konseli. Ini adalah hal yang harus dikuasai oleh seorang pelayan.
Dalam Kolose 1:25-28 dituliskan bahwa tujuan Paulus menjadi pelayan adalah agar dapat memimpin kehidupan tiap-tiap orang untuk mencapai kesempurnaan dengan Kristus. Menurut Dr. Kollar, kata sempurna di sana menunjuk pada kesempurnaan dalam pertumbuhan rohani, kesehatan mental, dan soal moral karakter. Kekuatan seorang gembala adalah Firman Allah dan memahami pekerjan pengudusan yang dilakukan oleh Roh Kudus. Sebagai seorang Kristen, perjumpaan kita dengan Yesus, keyakinan kita akan kebenaranNya, itulah yang seharusnya mengubahkan kehidupan kita. Seorang konselor dan konseli harus sependapat tentang maksud baik Allah dalam kehidupan manusia.
Pada bab ketiga, penulis menjelaskan tentang “Kekurangan Bahasa,” khususnya dalam dunia kesehatan mental. Setelah menuliskan panjang lebar tentang kisah William, penulis buku ini menarik kesimpulan bahwa solusi tidak selalu diperoleh dari permasalahan, tetapi tentu saja jawaban dari sebuah permasalahan mempunyai peranan juga dengan permasalahan itu sendiri. Dalam menangani sebuah persoalan, para pemimpin diharapkan untuk meneliti permasalahan, menguji keahlian mereka, dan menentukan porsi waktu yang harus diberikan kepada orang-orang yang meminta bantuan. Seorang konselor yang profesional akan mendengarkan dengan hati-hati tetapi nantinya akan membuat tujuan-tujuan pemulihan berdasarkan ilmu dasar psikopatologi.
Namun demikian, psikopatologi sendiri menunjuk kepada penyakit jiwa. Di sinilah akan terjadi gesekan, sebab hakikat Psikopatologi sangat berbeda dengan khotbah apa pun dari mimbar atau pengajaran-pengajaran di kelas. Kekurangan bahasa telah menciptkan sebuah definisi yang hanya dapat pahami melalui apa yang salah, rusak dan apa yang tidak cukup (Dr. Kollar mengutip dari Goolishian, 1991). Elemen yang biasa ada dalam pendekatan psikopatologi adalah penggunaan tenaga ahli. Sang Ahli inilah yang membuat evaluasi, mendiagnosa, mengatur langkah, dan mengklarifikasi tujuan-tujuan. Semua konselor gereja yang berfokus pada solusi adalah orang-orang yang terampil, tetapi keahliannya ada di dalam proses konseling, bukan pada gangguan kejiwaan Si Konseli.
Bab keempat membahas tentang “Perkiraan-perkiraan tersembunyi: Kantong anggur yang lama”. Dalam buku ini dijelaskan bahwa konseling dibagi menjadi 2, yakni: Pertama, konseling langsung yang banyak digunakan. Pada konseling langsung para konselor bertanya langsung dengan pertanyaan dan menggambarkan kembali kata-kata dan ide-ide yang diekspresikan oleh konseli. Jenis kedua adalah konseling tidak langsung. Hal berikut yang dijelaskan oleh Dr. Kollar dalam bab ini adalah tentang “Apa yang menjadi akar masalah?” Pertanyaan tentang akar masalah dimulai dari perkiraan-perkiraan yang spesifik. Misalnya saja adanya masalah yang spesifik, penyebab yang tepat dari masalah tersebut, dan hubungan antara penyebab dan pemecahan sebuah masalah. Jika sebuah masalah ditemukan dan dipahami, barulah masalah tersebut dapat diselesaikan. Namun demikian, jika ditinjau dari segi konseling, ada hal yang tidak menguntungkan apabila kita berusaha mencari penyebab sebuah persoalan. Hal yang tidak menguntungkan tersebut adalah, dengan mencari akar masalah hanya akan membuat masalah itu terus terpelihara.
Bagimana dengan nasihat Alkitab dalam hubungannya dengan “sebab utama atau akar masalah?” Kita harus mengingat bahwah kebenaran harus diperhatikan dalam setiap keadaan dan untuk itu konselor harus sepenuhnya sadar akan semua seluk beluk keadaan. Tetapi ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik dalam konseling, berhenti dan cobalah sesuatu yang berbeda. Waspadalah, jika seorang pendeta berkata: “Sekarang katakan apa masalahmu?” Itu artinya ia meletakkan fokus tepat pada masalahnya, bukan pada solusinya. Pengajaran adalah cara yang paling efektif yang digunakan pendeta untuk berhadapan akan dosa-dosa manusia dan kepercayaan yang tidak masuk akal.
Konseling seorang pendeta harus berfokus pada solusi (Solution Focused Pastoral Counseling – SFPC). SFPC mengajarkan bahwa di dalam Tuhan, konseli mempunyai semua sumber yang diperlukan. Prioritas konselor adalah menolong konseli untuk tidak terjebak, tidak menghasilkan perubahan kepribadian. Dalam menciptakan solusi, ingatlah bahwa Tuhan telah memberikan kemampuan untuk menciptakan solusi, solusinya dapat dibuat dan dijelaskan, solusi yang diciptakan bisa lebih dari satu, konselor dan konseli bisa membuat solusi bersama-sama, kita menciptakan solusi dengan kerja sama bersama dengan karya Tuhan dan ingatlah bahwa proses ini bisa diajarkan. Mengutip Jim Frey yang melakukan pendekatan yang berfokus pada solusi, seorang konselor gereja harus dengan hati-hati melakukan tiga hal, yaitu: menemukan apa yang diinginkan konseli, melihat apa yang telah Tuhan taruh dalam kehidupan konseli, dan berani melakukan sesuatu yang berbeda.
Selanjutnya, buku ini menjelaskan tentang “Arti adalah Tanggapan: Sebuah Gagasan yang Mengikat Kita.” Dalam bagian ini, penulis mengulas tentang konstruktivisme dan pelabelan. Menurut Dr. Kollar, setiap orang dipisahkan oleh ide-ide umum, kenangan-kenangan dan juga perasaan-perasaan. Semakin kuat kita memegang suatu kepercayaan, semakin kita mengikuti apa yang kita pegang. Apa yang kita percayai tentang dunia akan membentuk cara kita hidup di dunia ini. Seorang konselor yang berfokus pada solusi akan menuntun tetapi tidak mengontrol wawancara konseling dengan menggunakan pertanyaan. Jadi, tujuan akhir konseling adalah dengan cara yang baik memberikan kemungkinan-kemungkian solusi tanpa permasalahan.
Bab keenam buku ini mengajarkan tentang “Pembentukan Identitas.” Pendekatan yang berfokus pada solusi mendorong perubahan yang positif dengan memberi tekanan pada hasil dan dengan sangat hati-hati menggambarkan visi tentang bagaimana menapaki jalan keluar. Hal ini berfokus pada kualitas, kekuatan-kekuatan dan ketrampilan-ketrampilan yang sesuai dengan kompetensi Si Konseli. Dalam menjelaskan tahap pembentukan kepribadian, Dr. Kollar mengutip karya Erickson untuk menggambarkan delapan tingkat pembentukan kepribadin manusia. Kedelapan fase tersebut adalah: Percaya/ tidak percaya (usia 0 – 1 tahun); Otonom/ ragu-ragu (1 – 3 tahun); Inisitaif/ rasa bersalah (3 – 5 tahun); Rajin/ rendah diri (6 – 11 tahun); Identitas/ kebingungan peran (11 – 18 tahun); Keintiman/ pengasingan (dewasa muda); Menghasilkan/ stagnasi (usia pertengahan); dan Integritas/ putus asa (usia tua).
Penulis buku ini juga menekankan bahwa pengembangan kepribadian dimulai dengan tujuan-tujuan dari Allah. Psikologi dan antropologi haruslah diinformasikan oleh teologi. Campur tangan Allah di atas manusia harus menjadi kebenaran dari pertumbuhan tentang kerpribadian manusia, bukan semata-mata pemahaman dan tanggapan kita atas diri sendiri. Lalu apa signifikansi dari pengembangan indentitas ini dengan konseling? Kita harus setuju dengan campur tangan Allah dalam hidup kita bila kita berharap dapat berjalan bersama-Nya (Amos 3:3). Tepatnya, proses konseling harus menjadi alat bantu yang menolong konseli menemukan jalan dengan memandang pada proses pembentukan melalui persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Sekali lagi fokus atau tujuan seorang konselor adalah menolong konseli kembali pada track yang benar bersama dengan Allah.
Dua bab terakhir dalam bagian pertama buku ini membahas tentang bagaimana memandu anggapan-anggapan (berkaitan dengan cara berpikir) dan tentang integritas pribadi, yang menyediakan sebuah panduan etis dalam konseling Kristen. Berkaitan dengan cara berpikir, Dr. Kollar berkata bahwa kadangkala cara berpikir kita terbatas hanya pada apa yang dapat kita lihat. Oleh karena keterbatasan itulah, pada bab ini disediakan panduan anggapan dasar yang perlu kita miliki dalam melaksanakan SFPC.
Sembilan asumsi tersebut adalah: Tuhan masih dan terus aktif di dalam diri Si Konseli, persoalan yang kompleks tidak menuntut solusi yang kompleks pula, menemukan pengecualian menolong menciptakan solusi, Si Konseli selalu berubah, Si Konseli mampu dan dapat menetapkan tujuan, solusi dapat tercipta dengan bantuan (sebagai konselor gereja tugas kita adalah membantu konseli menciptakan realitas bahwa ada sebuah kesempatan untuk perubahan yang positif), Si Konseli bukanlah masalah, hubungan di dalam konseling tergantung pada posisi (seseorang dapat berada pada posisi rela, merasa disalahkan atau pada posisi menghadiri; jika konseli berada pada posisi “rela” akan mudah diajak kerjasama). Akhirnya, fokus seorang konselor adalah pada solusi.
Tentang etika dalam konseling, Kristen buku ini mengingatkan beberapa hal penting, yakni: tetaplah menjaga batasan-batasan anda, konseling harus didasari oleh kerangka teoritis pembentukan identitas dan memulihkan perkiraan-perkiraan, hak seorang konseli adalah yang utama, lakukanlah setiap usaha untuk menahan diri dari hubungan rangkap, yakinlah bahwa Si Konseli menyadari tanggung jawab dan batasan-batasan dari hubungan konseling, seorang konselor tidak boleh bersifat romantis atau memiliki keintiman seksual dengan konselinya, dan akhirnya kita diingatkan agar jangan menggunakan diagnosa atau prosedur perlakukan tertentu yang kita sendiri belum pernah mendapatkan pelatihan.

Bagian Kedua: Bab 9-16
Bagian kedua ini diawali dengan penjelasan tentang “Wawancara Konseling” yang di dalamnya merupakan usaha untuk mengusulkan kerangka perubahan. Menurut Dr. Kollar, seorang konselor pastoral yang berfokus pada solusi akan memperlakukan orang (konseli) dengan cakap. Konselor yang baik akan menyarankan perubahan sebagai pusat. Ini artinya menggeser orientasi dari persoalan-persoalan kepada solusi-solusi. Gambaran terbaik akan hal ini adalah sebuah kisah Sekolah Minggu tentang kereta yang melaju pada jalurnya. Mesin kereta merepresentasikan kebenaran Firman Tuhan dan keputusan yang kita buat. Gerbong yang tengah menggambarkan keputusan yang kita buat dan apa yang kita yakini, sedangkan dapur di kereta itu merupakan karakteristik kehidupan emosional kita. Seperti halnya bagian dapur yang digunakan oleh para kru kereta ketika mereka melakukan perjalanan jauh agar tetap hidup, demikian pula emosi kita adalah tentang “dimana kita hidup.” Yang pasti, kereta itu perlu jalur dan juga tujuan. Jalur itu mengilustrasikan tindakan untuk mencapai tujuan.
Pada bab ke sepuluh, Dr. Kollar menulis tentang mendengarkan dengan penuh perhatian sebagai pencarian petujuk dalam proses konseling. Mendengarkan dengan penuh perhatian ini berbeda dengan mendengar secara pasif atau secara aktif. Mendengar dengan penuh perhatian artinya memberikan kualitas perhatian, mendengar secara tajam agar menemukan petunjuk yang diperlukan. Mendengarkan dengan penuh perhatian membuktikan kebutuhan untuk memiliki perasaan yang benar. Menurut Dr. Kollar, maksud dari SFPC adalah untuk mendirikan hubungan yang bersifat kolaboratif dengan konseli. SFPC percaya bahwa daya penggerak sebuah perubahan adalah melalui perbaikan konsepsi-konsepsi. Ketika seorang konseli berpindah pada solution focuse, proses perubahan itu telah dimulai.
Dr. Kollar juga menjelaskan tentang perlunya seorang konselor memberikan dorongan umpan balik kepada konseli. Mengapa demikian? Sebab konseli adalah orang yang berada di tengah-tengah persoalan, menghadapi ketakutan dan juga keraguan. Bagi konseli, mendapatkan dorongan sama artinya mendapat manfaat yang sangat besar. Dalam usaha menciptakan lingkungan yang mendukung seseorang, konselor dapat menggunakan pola HOPE, yang masing-masing abjadnya merupakan singakatan dari sebuah pesan. Hopeful, Optimistic, Positive, Expectant. Tak ketinggalan di dalam buku ini juga dilampirkan contoh lembar wawancara SFPC.
Bagian berikut yang dibahas dalam buku ini adalah tentang memilih jalan. Menurut penulis buku ini, sekali saja ketika seorang konselor diundang ke dalam sebuah percakapan, metode pemilihan jalan dapat dimulai. Allah telah memberikan daya imajinasi yang mengagumkan kepada setiap manusia. Daya imajinasi itu dapat berguna untuk membayangkan solusi pada masa yang akan datang dan melihat kehidupan seperti apa yang akan terlihat ketika masalah ini teratasi? Untuk mengembangkan hasrat mendapatkan hasil yang baik haruslah dimulai dengan memilih jalan. Dalam memilih jalan ini, Dr. Kollar memberikan saran tentang jalan-jalan yang dapat dipilih dalam proses konseling itu sendiri.
Hal itu meliputi: Apa perubahan yang baru saja dialami? Pada jalan pertama ini seorang konselor menganggap bahwa perubahan yang baru terjadi adalah sebuah kemungkinan dan konselor ingin tahu, apa yang dapat diubah. Berikutnya adalah fokus pada masa depan. Langkah pertama mungkin sangat diperlukan untuk mulai memformulasi dan mendefinisikan tujuan. Pilihan langkah kedua ini adalah usaha membangun fokus pada masa depan. Melaluinya solusi kreatif dikembangkan. Solusi yang mendorong iman dan kecakapan serta hasil yang positif. Langkah ketiga adalah mengelola. Mungkin saja pada langkah kedua, konseli merasa putus asa sebab apa yang menjadi tujuan tidak tercapai. Sekaranglah saatnya konselor mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya “mengelola”. Jika langkah ketiga tidak membuahkan hasil, maka konselor harus masuk pada langkah berikut, yakni meletakkan masalah-masalah itu di luar (externalize the problem). Proses eksternalisasi itu sendiri meliputi beberapa tahapan seperti tergambar pada halaman 131 (mengikuti pola White & Epston). Pada bagian akhir bab ini, Dr. Kollar meyakinkan pembacanya bahwa apabila ada kegigihan dalam meyakini rancangan dan pekerjaan Allah, maka solusi akan tercipta.
Selanjutnya dalam bagian praktis ini, Dr. Kollar menuliskan tentang penjelasan visi, yakni usaha menggambarkan kehidupan tanpa masalah. Hal itu dapat dimulai dengan menggambarkan tujuan yang akan dicapai, menjelaskan tujuan tersebut, membuat pertanyaan tentang jalan pilihan untuk menggambarkan tujuan secara jelas, kriteria untuk merumuskan, menjelaskan tujuan, dan akhirnya mulai mengikuti jalan yang mengatur tujuan tersebut. Tak ketinggalan, Dr. Kollar juga membahas tentang perlunya respon balik yang bersifat mendukung dalam bagian praktis ini. Pembahasan ini didasarkan atas sebuah ayat dalam Amsal 18:21 dan 1 Tesalonika 5:11 yang menekankan pada perlunya memberikan dorongan yang baik. Respon yang bersifat mendukung ini dapat kita berikan dengan memberikan dorongan untuk melakukan tindakan yang positif, mengurangi ketakutan, dan membangun benteng kekuatan Si Konseli, memberikan komentar-komentar yang bersifat mendidik, menolong untuk konseli melihat kembali tujuan yang telah digambarkan, dan akhirnya dukungan itu juga dapat diberikan melalui pemberian tugas-tugas sederhana yang memotivasi konseli untuk berkembang.
Tiga bab terakhir dari buku ini lebih berisi saran-saran praktis untuk memperkuat perubahan, menerapkan asumsi-asumsi dalam SFPC, dan akhirnya menyajikan bagian tentang tanya jawab sebagai pertimbangan akhir. Tentang perlunya memperkuat perubahan, Kollar mengajarkan tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang konselor ketika keadaan semakin baik, atau sama saja, atau memburuk, bahkan jika keadaan seperti kembali pada titik semula. Dalam penjelasan tentang bagaimana menerapkan asumsi-asumsi SFPC (ada 9 asumsi seperti telah diringkas di atas), Dr. Kollar tampak seperti mengulas kembali apa yang telah disampaikannya pada bab 8. Bab terakhir buku ini berisi pertanyaan-pertanyaan penting tentang konseling. Pertanyaan-pertanyaan yang dibahas antara lain tentang kelainan kepribadian, pengobatan psikotropik, dan lain sebagainya. Semua hal itu dibahas dengan sangat baik dan mudah dipahami.

Senin, 21 Desember 2009

Merenung

Kasih Yang Membawa Mujizat

Seorang penulis buku bernama Andar Ismail pernah berkata bahwa Natal memang peristiwa yang agung, tetapi sebenarnya merayakan Natal itu sendiri adalah sebuah hal yang dapat disebut gampang-gampang susah. Ibarat berjalan dipematang sawah pada waktu malam dan tanpa penerangan yang cukup, jika tidak berhati-hati kita dapat terperosok. Menurut Andar, hal yang dapat membuat kita terperosok adalah komersialisasi Natal dan kesibukan Natal itu sendiri. Komersialisasi? Ya! Tanpa kita sadari Natal telah larut dalam rupa-rupa bisnis walaupun dengan dalih mencari dana perayaan Natal. Kita sibuk dengan menjual pakaian dan topi sinterklas yang adalah sumbangan dari budaya Belanda. Kita sibuk menghias pohon Natal yang adalah sumbangan budaya Jerman. Mungkin saja kita sibuk berbelanja lilin terang yang mulanya disulut oleh orang-orang Irlandia. Kita sibuk memilih-milih kartu Natal yang mulanya adalah kebiasaan orang-orang Inggris. Atau kita sibuk menghias sudut-sudut jalan seperti warisan budaya Italia.
Selain bahaya kesibukan dan komersialisasi Natal, kita juga dapat jatuh dalam kemunafikan Natal. Perintah Allah dalam Matius 5:14 agar kita menjadi terang sering kali hanya berlaku pada musim natal, persis seperti lampu-lampu Natal yang disimpan pada bulan lain. Kita bisa saja murah hati, murah senyum tapi itu hanya berlaku selama musim Natal. Apa sebenarnya Natal itu? Pertanyaan itu jauh lebih penting dari pada “makan apa Natal tahun ini? Pakai baju apa Natal tahun ini? Kado apa yang akan saya terima?”
Salah satu pesan penting dari peristiwa Natal yang harus kita sadari adalah fakta bahwa Natal adalah sebuah empati. Yohanes 3:16 berkata: “…begitu besar kasih Allah akan dunia ini SEHINGGA Ia mengaruniakan anakNya…” Empati dari Allah selalu menghadirkan tindakan nyata, bahkan Ia rela menempuh cara apapun supaya manusia melihat bukti dari empati Allah. Yohanes 1:14 berkata: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, . . . .” Inilah yang dapat disebut sebuah keajaiban atau mujizat bagi manusia.
Telah lama sejak kejatuhannya dalam dosa, manusia berusaha mencari jalan menuju kepada pemulihan hubungan dengan Tuhan. Apakah berhasil? Tidak! Jalan pemulihan itu terbuka melalui cara yang adikodrati, diluar jangkauan usaha dan kemampuan manusia. Itu diawali dengan kelahiran Yesus secara supraalamiah. Kemudian dilanjutkan dengan kematianNya di atas salib yang menjadi pendamian antara manusia dengan Allah, yang juga hal supraalamiah sebab berada diluar pikiran manusia. Ingatlah bahwa semua itu diawali dari “kasih” seperti tertulis dalam Yohanes 3:16 di atas.
Natal adalah bentuk kepedulian dari sang Agung kepada “yang hina”. Karena Dia peduli, Dia dapat merasakan apa yang kita rasakan (Ibrani 4:15). Perayaan-perayaan Natal menjadi tidak berarti jika sebelum dan sesudah musim Natal, kita hidup untuk diri sendiri, membangun monumen ke ‘aku’an. Mari jadikan natal sebagai titik balik dimulainya kasih yang terungkap dalam kepedulian yang nyata bagi orang lain. Kasih dan kepedulian itulah yang menghadirkan mujizat bagi orang lain, yakni keselamatan jiwa. Hanya orang-orang yang mengasihi sesamanya dan tergerak oleh kebutuhan orang-orang di sekitarnya yang layak merayakan Natal.

Rabu, 16 Desember 2009

Tiap kali lihat foto si kecil yang sudah semakin besar aku sadar...
waktu terus melaju...
Aku makin tua...tapi masih ganteng

Kamis, 16 April 2009

SYAIREFLEKSI

(JOHN 15) MAMPU SAAT DEKATMU
AKU TAK PERNAH BERBUAH…TAK MAMPU
AKU TAK PERNAH BERHASIL…TAK AKAN
JALANKU BUNTU DAN LANGKAHKU GONTAI
HARI-HARIKU BERLALU CEPAT TAPI TAK BERTUJUAN
MELELAHKAN TAPI TAK MEMUASKAN
BERPELUH DAN KERAP MENCUCURKAN AIR MATA NAMUN TANPA MAKNA
SEMUA TERJADI WAKTU AKU BERDIRI DAN BERJALAN SENDIRI
SAAT AKU MENDEKAT PADAMU
DAN TANGANMU YANG LEMBUT MEMAGUTKU ERAT…
HIDUPKU BERBUAH...AKU MAMPU
MESKI KULALUI DENGAN BERLELAH
JALANKU TERBUKA BAHKAN DISAAT TAK TERDUGA
DAN AKU MULAI MAMPU MENGEJA SEBUAH MAKNA…”aku ada karena aku dicinta!”

renungan

Menjaga Pikiran Dengan Baik
Ingatkah peristiwa tenggelamnya kapal Titanic yang sangat melegenda? Apakah kapal Titanic tersebut tenggelam akibat menabrak sepucuk es di tengah laut? kapal Titanic tenggelam karena menabrak badan gunung es yang sangat besar tapi tersembunyi di bawah permukaan air laut. Kapal Titanic tidak mungkin bisa tenggelam jika hanya menabrak sepucuk es di atas permukaan air laut.
Kisah tentang kapal Titanic adalah sebuah ilustrasi yang tepat untuk memberi gambaran tentang 2 dimensi pikiran yang kita punyai. Puncak gunung es, dapat ibaratkan sebagai "pikiran sadar kita", yang memang kita sadari bahwa kita punya itu. Dan, badan gunung es yang sangat besar itu adalah "pikiran bawah sadar" kita, yang cenderung kita abaikan karena kita tidak tahu atau tidak menyadari bahwa itu sangat besar pengaruhnya terhadap perjalanan hidup kita. Apapun buah pikiran Anda, seperti kepercayaan, teori atau pendapat yang ada di dalam pikiran sadar Anda; akan memberikan rekaman kuat ke dalam pikiran bawah sadar Anda. Untuk kemudian pikiran bawah sadar Anda akan memanifestasikan atau mewujudkannya ke dalam kehidupan nyata diri Anda.
Alkitab pun memandang pikiran manusia sebagai hal yang sangat penting. Mari kita pelajari bersama:
1) Pikiran kita harus ditaklukan kepada Kristus.
Dalam II korintus 10:5 Paulus mengungkapkan hal ini. Paulus menggunakan istilah menawan pikiran dan menaklukkan, pada frasa tersebut. Hal ini menunjukkan sebuah peperangan yang keras dan berat dimana setan mencoba menjauhkan manusia dari pengenalan akan Allah dengan berbagai siasat (termasuk dengan penderitaan) dan menanamkan keangkuhan di dalam diri manusia (II Korintus 10:4)
2) Kebahagiaan hidup dimulai dari pikiran yang positif.
Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus mengajar mereka untuk selalu memikirkan hal-hal yang positif (Filipi 4:8) Ketika ia menuliskan hal itu, keadaannya tidaklah menyenangkan sebab ia berada dalam penjara (Filipi 1:13-4). Bukan hanya itu, ia juga mengalami kekurangan dalam statusnya sebagai tawanan (4:11-12). Tanda-tanda pikiran Paulus yang positif ini tergambardari ucapannya dalam (4:13)
Penutup: Saudaraku, tidak ada yang dapat menjamin bahwa segala sesuatu akan berjalan seperti yang kita rancangkan (sama halnya dengan Titanic). Tetapi jika kita berpikir positif yaitu meyakini campur tangan Tuhan dalam setiap keadaan kita, maka kebahagiaan akan selalu menaungi kita Sebab Allah turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Roma 8:28)

Selasa, 27 Januari 2009

Karya dan bukan Kursi.

Christian Ethics in Leadership adalah kuliah pertama saya di program pasca sarjana, dan sungguh sebuah anugerah saat kami mendapatkan seorang pengajar yang sederhana (bahkan tampak lusuh) dan bersahaja cara bertutuenya. Walaupun bergelar Doktor Theologi, pria ini tampak sangat rendah hati dan sederhana. Pergi dan pulang mengajar ditempuhnya dengan menggunakan angkutan umum.
Dalam kesaksiannya ia mengaku mengajar program S-1 dan S-2 di lima Sekolah Tinggi Teologi di Jakarta ini, dan berkali-kali dia diminta menjadi pemimpin jurusan atau bahkan pemimpin sekolah, namun dia menolaknya sebab ia tidak ingin menetap pada satu sekolah saja. Ia sadar panggilannya adalah menjadi pengajar dan ia ingin mengajar orang sebanyak mungkin. Tentu saja hal itu tidak akan maksimal jika ia menetap di sebuah sekolah saja.
Kalimatnya yang paling mencengangkan saya adalah saat ia mengatakan: “saya lebih suka karya daripada kursi (kedudukan)” Saya rasa hanya orang yang tahu tujuan dan panggilan hidupnya yang mampu mengucapkan kalimat arif tersebut. Jaman sekarang ini, siapa yang tidak ingin kursi? Kursi identik dengan kehormatan atau gengsi. Kursi juga identik dengan kelancaran materi. Semua orang menginginkannya bukan? Bukankah Pemilu di negeri kita tahun 2009 ini juga ajang rebutan kursi? Semoga kita semua lebih mengedepankan karya daripada kursi. Semoga pula setiap orang yang memiliki kursi tidak lupa berkarya. Semoga pula mereka yang sudah duduk di kursi tidak lupa berdiri ! Semoga kita mampu mendahulukan karya dan bukan kursi.
Kuliah Lagi

Setelah menunggu dua tahun dan disertai pergumulan serius beberapa bulan terakhir akhirnya saya kembali ke bangku kuliah. Sempat was-was juga soal kemampuan sendiri, soal biaya dan beberapa hal lainnya. Disisi lain syukur mengalir deras dari hati kecil karena istri tercinta mendukung sekali, sungguh itu adalah dukungan terpenting yang saya terima.
Hal yang paling mengkhawatirkan saya sebenarnya adalah soal kemampuan akademis, nggak pede rasanya dan kalau dibayangkan jauh kedepan…wah dua tahun lagi baru selesai…lama banget!!!!!! Syukur juga karena Allah tidak pernah membiarkan saya melangkah sendirian menanggung beban pikiran yang demikian. Dalam masa-masa pergumulan menjelang masuk kampus lagi dan saat menapaki hari-hari pertama di perkuliahan ada perenungan menarik yang Tuhan ajarkan kepada saya.
Pertama dalam pergulatan batin Tuhan bertanya, apa motivasiku sekolah lagi? Pertanyaan yang mencuat keluar dari hati kecil ini sempat mengganggu saya berminggu-minggu lamanya. Apakah supaya ada embel-embel Master di belakang gelar sarjana saya? Jika benar,itu artinya saya sekolah hanya demi gengsi. Syukurlah itu bukan saya! Motif lain yang saya selidiki adalah apakah agar mendapat promosi atau kenaikan gaji? Syukurlah itu juga bukan, sebab saya sudah kenyang dengan jabatan yang tidak pernah saya minta. Motivasi saya hanya satu, saya ingin lebih banyak berbagi walau tidak naik gaji! Saya mau jemaat semakin berpengetahuan karena saya ditambahkan pengetahuan.
Kedua, di atas telah saya tuliskan keluhan saya tentang lamanya waktu yang harus saya tempuh dalam kuliah ini. Tentang inipun Tuhan berbisik dalam doa saya: “jangan lihat bulan depan atau tahun depan, tetapi lihatlah hari ini dan ayunkan kaki menjalani hari ini!” Buru-buru saya tersadar, benar juga ya…ngapain kuatir dengan sesuatu yang masih jauh di depan. Saya jadi terdorong menjalani Senin sampai Jumat perkuliahan dengan rasa syukur. Saya mulai kuliah 19 Januari itu artinya 19 Januarilah yang harus saya hadapi, bukan 23 januari…pasti nanti saya akan tiba di 27 November akhir perkuliahan. Bukankah demikian halnya dengan hidup kita? Kita sering kuatir dengan bulan depan dan tahun depan. Nikmatilah hidup dan jangan kuatir, kesusahan sehari cukuplah untuk sehari, seperti dikatakan dalam Matius 6:34. Esok ada kesusahan lain dan pasti ada juga jalan keluar lain.
Semoga pengalaman ini bermanfaat bagi yang lain.

Renungan

Mulai Dari Nol
Selain slogan “Pasti Pas” dalam layanannya kepada konsumen, Pertamina juga mencoba meyakinkan para pembelinya bahwa mesin pompa mereka dimulai tepat dari angka nol pada saat pengisian bahan bakar, entah Pertamax, Premium atau Solar. Itulah kalimat yang kerap diucapkan karyawan SPBU pertamina belakangan ini. Kalimat yang bertujuan untuk meyakinkan ketepatan kerja para karyawan dan juga mesin pompa mereka.
“Mulai dari nol ya, pak…।” Kalimat pendek karyawan SPBU itu mendadak muncul dalam benak saya tanggal 1 Januari tahun 2009 kemarin. Kalimat itu membekas dengan kental karena paling tidak 3- 4 hari sekali saya harus ke SPBU mengisi bensin sepeda motor saya. Setelah mengingat itu, tiba-tiba saja saya bergumam kepada diri sendiri: “Ini tahun baru…semestinya saya mulai dari nol dengan Tuhan.” Memang saya harus menjadi bangkrut di hadapan Tuhan. Tiada satupun yang dapat saya banggakan dan saya perlu merengek lagi kepada Tuhan: “Aku tidak punya apa-apa Tuhan…I need you Lord more than anything”

Tahun baru, tanggung jawab juga pasti baru. Tahun baru tantangan juga baru. Dan pasti berkat Tuhan juga baru, baik jenis, model, kemasan ataupun cara pengirimannya. Tahun yang baru adalah saat melakukan transformasi bagi kita. Saat yang tepat untuk menghasilkan yang lebih baik lagi. Oleh karena itu saya memutuskan menjadi bangkrut di hadapan Tuhan, seperti halnya Yosia saat memerintah Yehuda. Pada tahun-tahun awal dari 31 tahun masa kekuasaannya, Alkitab mengatakan dalam II Tawarikh 34:3 “…ia mulai mencari Allah Daud, bapa leluhurnya,….” Hal ini bukan berarti Yosia belum pernah mengenal Allah Daud leluhurnya. Yosia pasti pernah mendengar ajaran entang Allah yang perkasa, sebab pendidikan di Israel pada masa itu menggunakan tradisi oral yang begitu kental, di mana orang tua biasa menceritakan mujizat-mujizat dan hal-hal rohani lainnya tentang Allah kepada anak cucu mereka berulang-ulang, tepat seperti diajarkan dalam kitab Taurat.
Ulangan 6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. 6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, 6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Jadi,apa artinya Yosia mulai mencari Allah Daud? Ini berarti Yosia membangun sebuah komitmen baru untuk menempatkan Allah sebagai top priority. Dalam sejarah sebelum pemerintahan Yosia kita melihat Allah ditempatkan hanya sebagai obyek yang timbul tenggelam, tak lebih dari sandal yang sebentar dipakai dan sebentar kemudian diletakan begitu saja. Sebelum masa Yosia, Allah bukanlah top priority orang Israel. Memang seharusnya Allah menjadi Subyek yang berkusa dan bukan obyek yang kita atur seenaknya. Tahun yang baru adalah saatnya kita menemukan kembali Allah yang kita benamkan dalam kesibukan-kesibukan kita di tahun yang lalu dan menjadikan Dia tujuan dari apa yang kita kejar di tahun yang baru.
Tahun yang baru, alangkah baiknya jika kita menjadi bangkrut secara rohani dan kembali mulai dari nol. Happy New Year 2009!

Kamis, 18 Desember 2008

Natal

Sol Justitiae

Tahukah saudara bahwa pada awalnya gereja merayakan hari raya Natal setiap

tanggal 6 Januari?. Baruah dalam perkembangan selanjutnya, yakni mulai abad IV gereja merayakan hari Natal pada tanggal 25 Desember. Sumber alasan mengapa gereja merayakan hari Natal pada tanggal 25 Desember adalah karena kekristenan di Roma berhasil mengalahkan agama kafir, yang mana agama kafir di Roma waktu itu menyembah kepada dewa “Sol Invictus” yang artinya “matahari yang tak terkalahkan”. Tetapi dalam perkembangan sejarah akhirnya kekristenan mampu “mengalahkan” keyakinan kafir tersebut. Itulah sebabnya tanggal 25 Desember dijadikan hari raya Natal untuk mengingat bahwa dewa “Sol Invictus” dapat dikalahkan dan Kristus menjadi “Sol Justitiae” yang artinya matahari kebenaran, tepat seperti tercatat dalam kitab nabi Maleakhi 4:2 yang berkata: “Tetapi kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya.”

Selaras dengan gelar “Sol Justitiae” tersebut penulis Ibrani meneguhkan kembali mengenai Kristus. Di sana dikatakan: “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan”.(Ibr. 1:3) Gelar Kristus sebagai “cahaya kemuliaan Allah” artinya adalah Kristus sendirilah sumber cahaya ilahi dan dengan FirmanNya dan Ia menopang segala sesuatu, khususnya mereka yang disebut Maleakhi sebagai “orang-orang yang takut akan namaKU.” Kristus bukanlah terang besar, tetapi sumber terang yang tak terpadamkan. Satu hal yang patut kita kagumi adalah Allah berkenan menunjukkan cahaya kemuliaanNya melalui seorang bayi yang tampil secara sederhana, bahkan tanpa daya di dalam diri bayi Yesus. Sang matahari kebenaran dan Sang cahaya kemuliaan Allah itu hadir tanpa publikasi dan hanya diketahui oleh segelintir orang saja, yaitu orang-orang Majus dan para gembala di padang Efrata.

Dalam minggu-minggu yang sibuk dengan perayaan Natal ini biarlah kita tidak akan terlena dengan kemeriahan pesta. Biarlah mata hati kita tetap terjaga dan menggenggam erat dua makna. Pertama, Ijinkan matahari kebenaran itu bersinar melalui pesta perayaan Natal. Jangan biarkan kemeriahan panggung Natal menutupi matahari kebenaran itu menyinari jiwa yang gelap dan terluka. Kemeriahan ini tidak akan berarti jika tak banyak orang disekitar kita diterangi. Kedua, Jika hari-hari ini beratnya beban hidup membungkukkan langkah tegakmu, berhentilah meratap, sebab Sang Cahaya kemuliaan itu sanggup menopangmu dengan kekuatan FirmanNya. Berhentilah meratap. Hampirilah Kristus, Sang cahaya kemuliaan Allah itu. Berserulah kepadaNya, sebab Dialah jawaban! Selamat Natal sahabatku.

catatan harian

Sava Imunisasi

Sabtu kemarin, 13 Desember 2008 pergi ke doter spesialis anak untuk imunisasi si kecil. Meski bangun pagi-pagi dan masih ngantuk, Nampak sekali raut mukanya berseri karena di tahu mau diajak pergi. Tapi sampai di depan meja dokter mendadak raut mukanya berubah marah dan tidak suka dengan dokter yang memeriksanya. Ditimbang badan sudah marah dan menangis apalagi saat jarum suntik mulai di buka di depan matanya. Tangis kerasnya makin memenuhi ruang praktek doter.

Sebagai bapak, hatiku teriris mendengar teriakan dan tangisnya. Makin tak tahan manakala melihat jarum suntik itu menembus pahanya yang berisi. Itulah sekian detik yang menyakitkan buat aku. Tetapi aku harus bersabar dan menahannya karena aku tahu itu baik untuk kesehatannya di masa depan. Saat itu pasti menyakitkan buat si kecil, tetapi kelak dia akan tumbuh kuat dengan daya tahan tubuh yang baik pula.

Peristiwa itu sama halnya dengan jeritan kita saat menghadapi ujian yang menyesakkan. Pusing…susah tidur…susah makan…dan aneka rasa lainnya yang tidak enak. Tetapi jika kita renungkan lagi dengan sabar, bukankah Tuhan kita adalah perancang agung? Seperti diungkapkan oleh pemazmur dalam Mazmur 92:6 : Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya TUHAN, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu. Jika Dia adalah perancang yang besar, tentu saja setiap detil peristiwa yang kita alami berada dalam garis tujuan yang tak pernah terselami oleh kedangkalan logika manusia. Dan garis tujuan yang ditarikNya itu adalah kebaikan, sebab itulah sabdaNya dalam Yeremia 29:11.

Jarum suntik imunisasi memang menakutkan bagi si kecil dan bagi aku yang melihatnya. Tetapi aku aku percaya bahwa besok anakku akan tumbuh lebih sehat dan kuat. Ujian…tantangan memang menyesakkan bagi kita, tidak ada orang yang berharap akan mengalaminya,tetapi esok pasti menghasilkan buah, tepat seperti dijanjikanNya: Ibrani 12:11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.

Kamis, 11 Desember 2008

coretanharian

Pulang Kampung Lagi….

Semalam pergi bersama istri dan pulang saat malam sudah semakin larut, jam menunjukkan angka 11 saat tiba di rumah. Sejujurnya,badan nggak ingin pergi…letih dan letih. Mendadak istri berkata: “Ayo berangkat…jangan menahan kebaikan bagi orang yang berhak menerimanya.” Mendengar itu semangatku pun terbangun. Ya…tadi malam kami harus ke Tangerang dan mendoakan dan sedikit memberikan bantuan kepada seorang jemaat yang subuh tadi harus berangkat pulang kampung bersama istri dan 4 orang anaknya, termasuk yang masih diperut sang istri.

Aku sedih…dan menangis saat memeluk bapak itu dan memeluk satu-satu anak-anak mereka yang masih kecil. Mereka adalah jemaat yang dipercayakan untuk aku gembalakan pada awal aku terjun di ladang pelayanan tujuh tahun lalu. Memang sekarang aku sudah tidak menjadi gembala mereka lagi, tetapi aku merasa satu lagi sahabatku harus menyerah karena gagal menaklukkan kerasnya ibu kota. Setelah tiga belas tahun meninggalkan kampong halamannya di Kupang, NTT tanpa pernah sekalipun mudik, ia “dipaksa” keluarganya mudik karena prihatin dengan keadaan keluarganya yang kerap kekuragan di ibu kota.

Aku menangis dan menjerit dalam hatiku: “Tuhan maafkan aku dan juga gerejaMu yang tidak mampu menjadi jembatan agar domba kepunyaanMu itu menjadi umat yang lebih sejahtera secara jasmani dan rohani.” Tangisku semakin terisak manakala aku sadar bahwa aku ini sangat lemah dan sangat terbatas. Sejurus kemudian aku berseru agar Tuhan yang tak terbatas itu memimpin keluarga itu menuju hidup jasmani dan rohani lebih baik lagi. Semalam di sepanjang jalanan yang aku lalui aku berdoa agar aku diberkati lebih dari saat ini. Aku dibuat mengembang ke kanan dan ke kiri, jasmani - rohani seperti Yabes (I Tawarikh 4:10) agar aku dapat membuat orang lain mengembang pula secara jasmani dan rohani. Amin!

CoretanHarian

Kriiiiiiiiiiiing…!!!!

Baru kemarin pagi baca dan merenungkan perumpamaan Tuhan tentang penggarap kebun anggur, di Mat. 20:1-16. Memang di bagian awal penulis Matius sudah memberitahukan bahwa Yesus sedang berbicara tentang Kerajaan Allah dalam bagian itu. Tetapi aku belajar lagi tentang sebuah kebenaran dari sudut pandang yang lain, yaitu tentang otoritas Tuhan. Dia punya hak penuh untuk mengelola milik-Nya, Dia punya hak untuk membuat peraturan-peraturan terhadap pekerja upahannNya, sekali lagi karena Dia adalah Bos! Doaku: “Tuhan aku bersyukur kepadaMu karena berkenan menerimaku mengabdi kepadaMu. Engkau adalah Bos yang baik walau banyak kali tak terselami oleh sempitnya nalar. Engkau tidak pernah berhenti merancang hal yang baik bagi para karyawanMu karena Engkau adalah Bos yang selalu ingin berbagi . Terima kasih karena Engkau mau menjadi Bos bagi orang kecil sepertiku.”

Ditengah repotnya menyiapkan khotbah buat pelayanan 13 Desember 2008 ini, dua-tiga kali aku berpedih rasa dan mikirin kewajiban keuangan yang harus aku selesaikan tapi belum mampu aku selesaikan . Syukur…khotbahnya kelar juga. Tapi malam, jam 9 an kepikiran lagi dan aku ngomong ke istriku tersayang: “Koq..tiap tahun asal mau bayar sewa rumah, kita keteteran ya…?? “ Syukur lagi, punya istri baik yang bilang: “Ngga’ keteteran lah…pasti ada!” Jujur,pas lagi begitu…lupa saat teduh pagi tadi kalau Bosku itu baik! Dan tidak pernah berhenti merencanakan yang baik.

Syukur juga ada Syamarel dan Sava yang membuat aku meangacuhkan kebimbanganku sendiri. Dengan bermain dan bercanda bersama mereka aku tersenyum lagi! Kriiiiiiiiiing…..21.49 Wib, Ponselku bordering. “….ada apa lagi pikirku..” Di seberang sana ada seseorang berkata saya baru transfer…..juta.” Bengonglah aku! Waktu istriku nanya, aku jelasin singkat dan dia balik nanya: “Kamu bilang apa…ke dia?” Jujur aku ngga’ bilang apa-apa. Bingung…bengong…Shocked! Thanks God! Hidup lagi aroma saat teduh pagi hari. Tuhan itu Bos yang baik. Dengan mudahnya Ia berbisik lembut kepada seseorang: “Pergi ke ATM…Transfer duit ke Nanang!” Thanks God, semua milikMu,Kau punya hak penuh atas semua. Matius 20:15 “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?....” Kau berhak lakukan apapun Tuhan! You’re my big Boss!

Rabu, 19 November 2008

Hati yang Berbagi
Pendahuluan:
Reg Green adalah seorang warga California yang mengajak isteri dan anak-anaknya berlibur ke Italia. Pada saat mengendarai mobil sewaan melintasi jalan tol seorang perampok menembaki mobil mereka. Reg dan Maggie, isterinya, selamat, tetapi Nicholas yang baru berusia 7 tahun terluka dan 2 hari kemudian meninggal.
Dalam kesedihannya, ia tidak menuntut kedutaan negaranya dan menekan polisi setempat. Ia mengajukan keinginannya untuk menyumbangkan ginjal, hati, kornea, dan jantung Nicholas kepada 7 warga Italia, negara dimana anaknya mati terbunuh. Green berkata ada banyak pilihan yang kita bisa lakukan untuk kehidupan yang lebih baik, memilih mencintai daripada membenci dan bermurah hati daripada berbuat kejam. Beberapa minggu kemudian ada banyak orang Italia berbondong-bondong mencatatkan diri sebagai donor organ tubuh. Itulah ringkasan kisah dari buku yang berjudul “The Nicholas Effect”.
Juru selamat kita, Yesus Kristus juga memiliki rasa peduli yang besar terhadap segala keluh kesah kita, hingga Alkitab meringkas perasaan Yesus itu di dalam Ibrani 4:15.
Kepedulian Allah ditunjukkan melalui ‘duka’-Nya melihat keadaan manusia dan dunia ini. Dalam hal apa saja Allah berduka?

1. Allah berduka melihat keadaan dunia ini.
Beberapa hal yang dituliskan oleh Paulus mengenai dunia ini:
Dunia ini jahat (Galatia 1:3-4). Sistim informasi dan nilai-nilai pergaulan yang buruk telah merusakan kebiasaan baik manusia..
Dosa telah masuk ke dalam dunia ini (Roma 5:12)
Dunia ini tidak layak ditiru (Roma 12:2)
Di tengah situasi dunia yang seperti demikianlah Allah menunjukkan kepedulian-Nya pada dunia ini. Seperti dikatakan dalam (Yohanes 3:16-19)

2. Yesus juga berduka karena keberdosaan seseorang.
a. Pada peristiwa penyembuhan di kolam Betesda, Yesus menjumpai seorang yang sudah 38 tahun sakit, lalu disembuhkan oleh kuasa-Nya. Oleh sebab itulah Yesus meminta supaya orang itu tidak berbuat dosa lagi, sebab jika ia masih berbuat dosa maka hal yang lebih buruk lagi akan menimpanya (Yohanes 5:14).
b. Kisah berikutnya adalah ketika Yesus berhadapan dengan seorang wanita yang kedapatan berbuat zinah dan hendak dilempari dengan batu oleh orang banyak. Di sana Yesus jelas sekali menunjukkan anugerah-Nya bagi si Pendosa dengan mengampuni dan juga memperingatkan agar tidak mengulangi perbuatannya kembali (Yohanes 8:2-11) Perhatikanlah bentuk kepedulian Yesus yang diwujudkan dengan memulihkan manusia dari kutuk dosa dan memperingatkannya akan dampak yang lebih buruk lagi dari dosa.

3. Yesus berduka karena penderitaan seseorang (empati).
a. Rasa empati inilah yang berujung pada sebuah tindakan. Beberapa kali Alkitab mengatakan bahwa hati Yesus tergerak oleh belas kasihan (Mat 20:34; 14:14; Markus 1:41).
b. Selain itu, dalam Yohanes 11:33 disebutkan “masygullah hati Yesus” (secara kasar istilah ini dapat diibaratkan seekor kuda yang meringkik dengan keras dengan kaki depan terangkat dan tak sabar untuk berlari. Itulah rasa hati Yesus; gelisah tak sabar untuk segera melakukan sesuatu) saat melihat derita Maria dan Marta.

Jika Allah peduli, kita pun harus peduli! Pertanyaannya bagi kita: kapan terakhir kali kita bersedih, menangis dan tak tahan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain yang sedang menderita?

Rabu, 20 Agustus 2008

Kesan yang Dikenang Orang
Pendahuluan:
Siapa Turis Terbaik di Dunia? Menurut sebuah survei yang dilakukan di Eropa, orang-orang Jepang adalah turis terbaik. Setelah itu, orang-orang Amerika Serikat dan Swiss. Menurut survei itu, para turis asal Jepang bersikap sopan dan taat pada aturan. Sebanyak 35 persen responden memilih orang-orang Jepang. Survei itu dilakukan oleh sebuah situs wisata Expedia. Sebanyak 1.500 staf hotel di Eropa ditanya pendapat mereka tentang perilaku para turis. Menurut survei itu, orang-orang Swiss dinilai sebagai turis yang tenang. Tidak seperti turis asal Inggris yang berada di urutan kelima terburuk. Perilaku turis Inggris dinilai tidak menyenangkan. Mereka terlalu berisik dan jarang memberi tip. Meski demikian, responden memuji orang-orang Inggris sebagai orang yang sering berlibur dibandingkan orang-orang AS. Turis terburuk, ujar para staf hotel, adalah orang-orang Prancis, disusul India, Tiongkok, dan Rusia. Turis bergaya pakaian terburuk berasal dari AS dan Inggris.(Sumber : Suara Pembaruan)
Peralihan:
Orang mungkin akan mudah melupakan nama kita. Tapi, orang akan mudah mengingat dua hal tentang kita : kesan yang baik dan kesan yang buruk. Apa yang ingin anda tinggalkan? Mari kita belajar dari dua tokoh penguasa negeri yang besar dan kesan yang mereka tinggalkan setelah mereka mati.
1. Raja Yoram meninggalkan kesan buruk
Yoram memerintah hanya 8 tahun dan pada akhir hayatnya Alkitab menuliskan: “ … Ia meninggal dengan tidak dicintai orang…” (II Tawarikh 21:20). Lebih tragis lagi dalam akhir kalimat II Tawarikh 21:20 tersebut dikatakan; ”…Ia dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak dalam pekuburan Raja-raja.” Bukan hanya waktu hidup Yoram dibenci, setelah mati pun ia tetap dibenci dan tidak dihormati. Ia tidak disejajarkan dengan Raja-raja Israel lainnya.
Apa gerangan yang diperbuat Yoram hingga orang-orang Israel membencinya? Jika ditelusuri seluruh kisah Yoram dalam Kitab II Tawarikh 21, akan nampak jelas di sana bahwa Yoram sendiri adalah pribadi yang tidak peduli dengan cinta. Kepeduliaannya hanya ada pada kekuasaan. Demi melindungi kekuasaannya, Yoram membunuh orang-orang di sekitarnya karena takut mereka akan merebut kedudukannya (II Tawarikh 21:4). Tidak hanya itu, Yoram juga menyesatkan rakyatnya dan menganjurkan penyembahan berhala. Sebuah arahan bodoh dari seorang penguasa kepada rakyatnya (II Tawarikh 21:11).

2. Raja Hizkia meninggalkan kesan baik
Kisah Hizkia tercatat dalam II Tawarikh 29:1-32:33. Ia menjadi raja pada usia 25 tahun dan memerintah selama 29 tahun. Mari kita simak respon rakyat pada saat kematian Hizkia. “ Kemudian Hizkia mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan dikuburkan di pendakian ke pekuburan anak-anak Daud. Pada waktu kematiannya seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem memberi penghormatan kepadanya….” (II Tawarikh 32:33)

Apa sebabnya Hizkia sangat dihormati? Mari kita simak penjelasan Alktab berikut ini:
a) Alkitab mengatakan : “Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya.” (29:2)
b) Alkitab juga mencatat dalam II Tawarikh 31:20-21 “Demikianlah perbuatan Hizkia di seluruh Yehuda. Ia melakukan apa yang baik, apa yang jujur, dan apa yang benar di hadapan TUHAN, Allahnya. Dalam setiap usaha yang dimulainya untuk pelayanannya terhadap rumah Allah, dan untuk pelaksanaan Taurat dan perintah Allah, ia mencari Allahnya. Semuanya dilakukannya dengan segenap hati, sehingga segala usahanya berhasil.
Penutup:
Kesimpulan yang dapat saya berikan adalah: ”Terlalu mudah dan terlalu banyak jalan untuk meninggalkan kesan buruk dan diperlukan kerelaan untuk terus menerus berkorban agar menghasilkan kesan baik.”