Senin, 21 Desember 2009

Merenung

Kasih Yang Membawa Mujizat

Seorang penulis buku bernama Andar Ismail pernah berkata bahwa Natal memang peristiwa yang agung, tetapi sebenarnya merayakan Natal itu sendiri adalah sebuah hal yang dapat disebut gampang-gampang susah. Ibarat berjalan dipematang sawah pada waktu malam dan tanpa penerangan yang cukup, jika tidak berhati-hati kita dapat terperosok. Menurut Andar, hal yang dapat membuat kita terperosok adalah komersialisasi Natal dan kesibukan Natal itu sendiri. Komersialisasi? Ya! Tanpa kita sadari Natal telah larut dalam rupa-rupa bisnis walaupun dengan dalih mencari dana perayaan Natal. Kita sibuk dengan menjual pakaian dan topi sinterklas yang adalah sumbangan dari budaya Belanda. Kita sibuk menghias pohon Natal yang adalah sumbangan budaya Jerman. Mungkin saja kita sibuk berbelanja lilin terang yang mulanya disulut oleh orang-orang Irlandia. Kita sibuk memilih-milih kartu Natal yang mulanya adalah kebiasaan orang-orang Inggris. Atau kita sibuk menghias sudut-sudut jalan seperti warisan budaya Italia.
Selain bahaya kesibukan dan komersialisasi Natal, kita juga dapat jatuh dalam kemunafikan Natal. Perintah Allah dalam Matius 5:14 agar kita menjadi terang sering kali hanya berlaku pada musim natal, persis seperti lampu-lampu Natal yang disimpan pada bulan lain. Kita bisa saja murah hati, murah senyum tapi itu hanya berlaku selama musim Natal. Apa sebenarnya Natal itu? Pertanyaan itu jauh lebih penting dari pada “makan apa Natal tahun ini? Pakai baju apa Natal tahun ini? Kado apa yang akan saya terima?”
Salah satu pesan penting dari peristiwa Natal yang harus kita sadari adalah fakta bahwa Natal adalah sebuah empati. Yohanes 3:16 berkata: “…begitu besar kasih Allah akan dunia ini SEHINGGA Ia mengaruniakan anakNya…” Empati dari Allah selalu menghadirkan tindakan nyata, bahkan Ia rela menempuh cara apapun supaya manusia melihat bukti dari empati Allah. Yohanes 1:14 berkata: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, . . . .” Inilah yang dapat disebut sebuah keajaiban atau mujizat bagi manusia.
Telah lama sejak kejatuhannya dalam dosa, manusia berusaha mencari jalan menuju kepada pemulihan hubungan dengan Tuhan. Apakah berhasil? Tidak! Jalan pemulihan itu terbuka melalui cara yang adikodrati, diluar jangkauan usaha dan kemampuan manusia. Itu diawali dengan kelahiran Yesus secara supraalamiah. Kemudian dilanjutkan dengan kematianNya di atas salib yang menjadi pendamian antara manusia dengan Allah, yang juga hal supraalamiah sebab berada diluar pikiran manusia. Ingatlah bahwa semua itu diawali dari “kasih” seperti tertulis dalam Yohanes 3:16 di atas.
Natal adalah bentuk kepedulian dari sang Agung kepada “yang hina”. Karena Dia peduli, Dia dapat merasakan apa yang kita rasakan (Ibrani 4:15). Perayaan-perayaan Natal menjadi tidak berarti jika sebelum dan sesudah musim Natal, kita hidup untuk diri sendiri, membangun monumen ke ‘aku’an. Mari jadikan natal sebagai titik balik dimulainya kasih yang terungkap dalam kepedulian yang nyata bagi orang lain. Kasih dan kepedulian itulah yang menghadirkan mujizat bagi orang lain, yakni keselamatan jiwa. Hanya orang-orang yang mengasihi sesamanya dan tergerak oleh kebutuhan orang-orang di sekitarnya yang layak merayakan Natal.