Minggu, 21 Agustus 2011

Shoulder to Cry On


Beberapa waktu lalu kita dihebohkan dengan penampilan seorang anggota brimob di Gorontalo yang menari dan melakukan lips sing pada saat bertugas jaga dikantornya. Ratusan komentar bercampur aduk’ Baik-buruk semua menyatu. Komentar buruk mengatakan polisi itu tidak disiplin, mengabaikan panggilan utama. Komentar baik yang mendukung polisi itu mengatakan bahwa ia adalah Brimob kreatif. Sedangkan mereka yang lebih humanis mengatakan bahwa tindakan itu wajar ditengah tekanan pekerjaan berat dan kesepian seorang anggota Brimob.
Beberapa hari belakangan saya juga bertemu beberapa orang Kristen yang mengatakan bahwa ia telah hilang semangat! Bahkan meminta Tuhan mengambil saja nyawanya. Orang kristen lainnya berkata memang 2011 ini susah buat usaha, untuk perasional hidup saja tampak berat bagi dia dan keluarganya.

Keadaan Zaman ini: Manusia Diserang Stress
Hidup manusia memang ditandai oleh usaha-usaha pemenuhan kebutuhan, baik fisik, mental-emosional, material maupun spiritual. Bila kebutuhan dapat dipenuhi dengan baik, berarti tercapai keseimbangan dan kepuasan. Tetapi pada kenyataannya seringkali usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut mendapat banyak rintangan dan hambatan. Tidak terpenuhinya keseimbangan diantara hal-hal di atas itulah yang membuat manusia mengalami stress.
Keadaan itu semakin bertambah buruk apabila manusia tidak memiliki tempat curhat. Richard Farson, seorang profesor Humanistic Psychology Institute di San Fransisco mengatakan dalam surveinya bahwa “Jutaan orang Amerika tidak pernah punya lebih dari satu menit selama hidupnya untuk menceritakan persoalan hidupnya kepada orang yang bisa dipercayainya”. Tidaklah mengherankan jika angka depresi dan pemakaian obat-obat anti depresi tergolong sangat tinggi di Amerika.

Manusia Butuh Pertolongan
Pertolongan seperti apa? Pertama, manusia butuh orang lain! Memang tidak mudah mempercayai seseorang dan cukup berisiko mempercayakan persoalan kita pada orang lain. Tapi, jika ingin bertumbuh dan berkembang secara sehat, kadang kita membutuhkan bahu orang lain dimana kita bisa bersandar! Berbahagialah orang yang mempunyai ‘Shoulder To Cry On’
Pertolongan kedua harus diusahakan dari dalam orang itu sendiri. Ia harus secepatnya meletakkan beban itu! Pada saat memberikan kuliah tentang Management Stress, Stephen Covey mengangkat gelas air dan bertanya kepada para siswanya : "Seberapa berat menurut Anda segelas air ini ?" Para siswa menjawab mulai dari 200 gram sampai 500 gram. "Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama Anda memegangnya," kata Covey. "Jika saya memegang gelas ini selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin Anda harus memanggil ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin terasa," jelas Covey. " Inilah sikap kita! Pilih melepaskan atau terus menggenggamnya seolah beban itu adalah kutukan?

Pada Bahu Siapa Kita Datang?
Melalui risetnya Dr Karen Grewen, peneliti asal Universitas North Carolina mengatakan bahwa berpelukan dapat melepaskan hormon oxytocin,yang berhubungan dengan perasaan cinta dan kedamaian. Namun demikian kita harus bijaksana, dengan siapa kita berpelukan? Jangan sampai malah menimbulkan masalah baru. Sama seperti tips diatas, manusiapun perlu menemukan bahu yang tepat untuknya bersandar. Di bahu Yesus pasti tepat!

Matius 11:27-30: Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

Perhatikanlah perkataan Yesus untuk meyakinkan pendengarnya waktu itu: “semua telah diserahkan kepadaKu....” Ini menunjukkan besarnya kekuasaan atau otoritas Yesus Kristus di muka bumi ini.
Yesus masih mengontrol bumi ini.
Yesus masih mengontrol Indonesia.
Yesus masih mengontrol gerejaNya.
Yesus juga masih mengontrol umatNya (termasuk Saudara dan saya!).

Allah yang berkuasa itu kini memanggil kita yang lelah (feel fatigue- lelah karena kerja keras dan hasilnya tidak sesuai harapan) dan yang berbeban berat (heavy laden-dirundung derita) untuk datang kepadaNya. Dia menyediakan bahuNya untuk kita menangis dan berkeluh. Dia menyediakan kelegaan atau kesegaran kembali bagi mereka yang mendekat padaNya. Dia menggenapi nubuat Yesaya 42:3 : “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.”