Kamis, 31 Juli 2008

Bijaksana

MENYELAMI PIKIRAN SI HERU

Cowok kecil hitam manis itu namanya Heru. Heru masih kelas 5 SD. Orang tuanya saya kenal baik karena mereka bekerja dan tinggal di sebuah villa di daerah puncak yang kami (saya dan teman-teman pelayan) sering gunakan untuk doa dan puasa.
Heru dan orang tuanya hidup dengan sederhana ditengah villa-villa mewah yang sedap dipandang di sekeliling mereka (apalagi buat orang dusun yang sederhana seperti mereka.) Setiap kali ada di sana saya sering melihat Heru pergi, kadang ke gereja kadang pergi les atau kadang juga karena disuruh bapaknya sekedar ke warung yang semua tempatnya ada diluar area villa-villa mewah tersebut. Dibekali dengan sepeda ala federal yang sadel-nya sudah keras seperti batu, Heru dengan kaki kecilnya mengayuh pedal sepedanya melewati jalanan yang di kitari bunga beraneka warna dan pepohonan. Jalanan naik turun, berbelok-belok sudah menjadi rute Heru setiap hari.
Saya membayangkan kalau Heru harus dua atau tiga kali dalan sehari melewati jalanan yang naik-turun tadi. Wah..wah betapa capek-nya sepasang kaki kecil milik Heru. Saya pernah mencoba keluar dari area villa-villa tersebut berbekal sepeda pinjaman (milik si Heru yang sadel-nya keras seperti batu) saya sempat menggerutu dalam hati. Wah amit-amit nafas sudah mau putus rasanya, apalagi waktu mau keluar dari area itu, jalanannya dipenuhi tanjakan. Berat sekali, bahkan rasanya lebih enak jalan kaki.
Mungkin Heru sudah tidak merasa se-capek saya karena suda terbiasa. Tapi namanya manusia apalagi anak-anak rasa capek waktu mau keluar area itu pasti dia rasakan. Waktu jalanan menanjak seperti itu dalam benak saya kepengin banget cepetan balik karena jalanan turun. Pasti enak pikir saya tidak perlu kayuh pedal. Mungkin harapan saya tadi sama seperti harapan Heru, cepetan balik karena jalanan turun dan kaki tidak lagi pegal-pegal.
Cerita tentang hidup Heru tadi rasanya tidak jauh beda dengan kehidupan sehari-hari yang sering kita alami. Pernah kita sama-sama rasakan betapa berat tantangan yang kita hadapi, kadang juga kita bertanya-tanya: …Oh Tuhan kapan jalanan menanjak ini akan berakhir? Bisa jadi saking tidak kuatnya mengayuh pedal kehidupan orang jadi menyalahkan Tuhan. Tuhan tidak adil-lah, Tuhan cuek-lah, bahkan ujung-ujungnya bilang Tuhan itu tidak ada. Gawat ndak?
Kita semua pasti ingin jalan kehidupan kita melaju dengan nyaman tanpa perlu capek-capek mengayuh pedal seperti jalanan yang turun menuju rumah Heru tadi. Tapi itulah kehidupan, kita harus menerima baik jalan menanjak yang membuat kita berpeluh mengayuh ataupun jalan turun yang menjadikan roda kehidupan menggelinding dengan bebas tanpa harus dikayuh. Mungkin kita semua perlu belajar untuk memiliki sikap menerima dengan hati bersyukur apapun jalan yang sedang kita tapaki saat ini.
Cuman sayangnya kita ini sering susah kalau disuruh bersyukur apalagi kalau persoalan-persoalan berat tengah membelit. Tapi bersyukurlah karena ada seorang yang dengan hikmat Allah yaitu Salomo mengajarkan kita bagaimana kita dapat menjadi orang yang nrimo (menerima) dengan lapang dada apa adannya kehidupan ini. Dalam Kitab Pengkhotbah 3:11 Salomo mengatakan bahwa …Allah akan menjadikan semua indah pada waktu-Nya, dan kita harus nrimo juga bahwa kita tidak dapat menyelami semua yang dikerjakan oleh Allah. Kita hanya dapat percaya bahwa waktunya Tuhan itu yang paling pas buat kita mencicipi sesuatu dan kita harus percaya bahwa semua yang dirancangkan Allah itu baik adanya. Amin.
E,e….e jangan lupa juga jalanan yang turun, menggelinding itu bahaya juga lho, kalau kita tidak bisa nge-rem. Jangan sampai juga karena ke-enakan menggelinding, kita lupa daratan, lupa bahwa yang membuat semua menggelinding dengan nyaman juga Tuhan. Bersyukur sajalah, biar menanjak atau menggelinding jalan hidup kita, yang penting bersama Tuhan. Baca sendiri Roma 8:28!

Tidak ada komentar: