Kamis, 31 Juli 2008

SUSAHNYA JADI GURU…

Suatu hari Konfusius atau Kung Fu Tse seorang guru dan juga filsuf pada zaman Cino Kuno pernah ditanya oleh seorang muridnya: “Guru, semakin banyak yang kita pelajari, semakain banyak pula yang kita tahu. Dari sekian banyak hal itu apa yang paling perlu kita pelajari?” Sang guru terdiam sejenak, lalu ia menjawab dengan mantap: “Li…adalah hal yang paling perlu kita pelajari!” Apa itu Li ? “Li” adalah “peran yang sesuai dengan hakekat” atau juga dapat diartikan sebagai sebuah “sikap yang patut”
Kung Fu Tse mengajarkan bahwa di dunia ini ada panca hubungan. Kelima hubungan itu adalah, hubungan raja- rakyat; suami-istri; orang tua-anak; kakak-adik; dan atasan-bawahan. Hidup ini akan berjalan dengan baik, indah, rukun apabila setiap orang mampu berperan sesuai dengan hakekat masing-masing. Setiap orang paham Li-nya masing-masing. Seorang raja harus berperan sesuai dengan hakekatnya sebagai raja yang mengayomi rakyatnya. Seorang rakyat harus berperilaku sebagaimana seharusnya rakyat yang menghormati dan membantu rajanya. Seorang suami juga harus menjalankan perannya sebagai suami yang bertanggung jawab terhadap isterinya, menjadi kepala atas rumah tangganya, dan isteri juga harus bertindak sebagaimana seharusnya seorang penolong bagi suaminya. Anak-anak berperilaku sebagaimana seorang anak yang menghormati dan mentaati orang tuanya demikian seterusnya.
Jika kita tarik benang merah falsafah Kung Fu Tse tersebut dan kita ikatkan pada dunia didik-mendidik, maka kita akan menemukan sebuah kebenaran tentang tujuan pendidikan. Entahkah di rumah, di sekolah, di gereja atau di mana saja, seharusnya tujuan pendidikan adalah untuk membawa, membimbing dan mengarahkan seorang murid memahami, menemukan hakekat dirinya atau Li tersebut. Dengan kata lain, pendidikan yang berhasil haruslah membawa seorang peserta didik untuk menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi seperti si ini dan si itu!
Inilah seni mendidik sekaligus tantangan dalam mendidik, baik bagi seorang bapak dalam mendidik anak, seorang suami mendidik isterinya, seorang raja mendidik rakyatnya, seorang kakak mendidik adiknya atau seorang bos mendidik anak buahnya. Seorang pendidik tidak boleh memaksakan peserta didik untuk menjadi seperti yang dia mau. Bahkan akan lebih celaka lagi jika sang guru sendiri belum menemukan Li-nya! Dia juga belum yakin, dia itu siapa, seharusnya jadi apa? Jadi, dari semua falsafah yang dilontarkan Kung Fu Tse tentang pendidikan ini, kita dapat memetik 2 pelajaran penting tentang didik-mendidik, khususnya bagi sang pendidik atau calon pendidik.
Pertama, seorang pendidik; entahkah dia seorang raja, bos, bapak, kakak atau yang lainnya haruslah berjuang menemukan Li-nya. Berjuang mencari jati dirinya. Jika dia belum bisa berperan sesuai dengan hakekatnya sendiri, dia belum layak menjadi seorang pendidik. Seorang pendidik tidak boleh mengajarkan sesuatu karena “…katanya….si ini, katanya si itu….” Dia harus mantap karena telah melakukan. Ingatlah bahwa Yesus berhasil menjadi seorang guru yang baik karena dia tahu untuk apa dia harus ada di dunia ini? Karena apa dia harus jadi guru? Jawabannya adalah karena Yesus mau melakukan kehendak Bapa-Nya (Yohanes 4:34). Sang Bapa memang ingin Yesus menjadi pengajar didunia yang kurang ajar ini. Karena Yesus tahu panggilannya ini, Dia mampu memberikan bahan pelajaran secara sederhana; misalnya melalui perumpamaan-perumpamaan yang menggunakan kisah hidup sehari-hari dan yang sangat dipahami oleh masyarakat pada zaman itu.
Melakukan metode tertentu di dalam mendidik seharusnya lahir bukan karena ikut-ikutan, tetapi harus karena seorang pendidik mengetahu bahwa ia memang terpanggil untuk mendidik. Bukan terpanggil untuk masa bodoh. Secara umum Li kita di dunia ini adalah untuk menjadi garam dan terang (Matius 5:13-14) dan semua tindakan kita untuk mendidik harus dengan landasan itu; “membentuk peserta didik menjadi garam dan terang di dunia yang kurang asin dan gelap ini.” Tetapi tidak berhenti sampai di sana, seorang pendidik harus menemukan Li-nya secara khusus. Bagaimana caranya? Tentu hanya bisa ditemukan ketika dia bertanya kepada Tuhan dan berani mencoba setiap kemungkinan yang ada serta semakin mengasah kemampuannya. Artinya, suatu hari nanti, seorang pendidik tidak harus mengerjakan semua hal. Tidak semua bidang harus dia kuasai, tidak semua umur harus diajarnya, tetapi hari demi hari dia harus menjadi semakin tajam pada sebuah bidang tertentu.
Hikmat kedua yang patut diperhatikan oleh seorang pendidik adalah, seorang pendidik atau calon pendidik, tidak akan pernah menjadi pendidik yang baik sebelum dia menjadi murid yang baik. Golda Meier mantan perdana menteri Israel pernah berkata: “Jika seseorang tidak tahu bagaimana menangis, ia juga tidak tahu bagaimana seharusnya tertawa.”
Dalam konteks didik-mendidik perkataan tersebut dapat diartikan seorang pemimpin tidak akan menjadi pemimpin yang baik jika dia belum menjadi bawahan yang baik. Seorang bapak tidak akan menjadi bapak yang baik jika dia tidak pernah menjadi anak yang baik. Intinya adalah, kita tidak akan pernah menghargai sesuatu sampai kita merasakan sendiri sesuatu itu.
Dalam Lukas 14:26-33; Lukas 18:22, Yesus pernah mengajarkan tentang menjadi seorang murid yang baik. Menjadi murid yang baik haruslah menjadi murid yang rela terikat kepada gurunya dalam arti dia memutuskan untuk patuh hanya kepada gurunya dan semua ajaran gurunya, bukan kepada orang lain atau budaya lain (Simak Lukas 14:26) Selain itu, seorang murid yang baik harus menyangkal diri, artinya rela menaklukan segala kemauannya kepada kemauan sang guru. Tidak memberontak dan yakin bahwa sang guru hendak membawanya mencapai keberhasilan. Jadi jangan heran kalau sekarang murid kita; bisa anak, bisa bawahan, bisa isteri memberontak terhadap apa yang kita ajarkan. Periksa diri kita dulu, waktu kita juga jadi anak, atau murid, atau bawahan, jangan-jangan kita tidak patuh pada pendidik kita, kekeuh pada mau kita sendiri.
Jangan lupa juga, kita bisa menemukan Li kita saat kita menjadi murid yang baik, nurut pada apa yang diajarkan guru kita. Murid perlu guru, itu sama dengan manusia butuh cermin buat ngaca, sebab dengan ngaca kita tahu mana yang kurang pas dengan dandanan kita. Akhirnya, saya cuma bisa berkata: “Nggak gampang dan nggak bakalan berhasil mendidik orang, apalagi kalau kita sendiri nggak pernah mau dididik.”

(Pernah dimuat dalam majalah Suara Kharismatika Juni 2006)

Tidak ada komentar: